Manisan Cabai Merah Jadi Bisnis Hot

dibaca 1181 pembaca

Manisan Cabai Merah Jadi Bisnis Hot

Cabai merah yang lazim digunakan sebagai bumbu masak dan berasa pedas, ternyata bisa juga diolah sebagai manisan. Alhasil, cabai tidak lagi pedas, namun manis kendati tetap aroma khas cabai. Manisan cabai ini merupakan salah satu produk unggulan (Hot) pondok Halua Delima.

Kini usaha yang sudah berdiri 10 tahun ini, memiliki sekira 20 jenis manisan dengan bahan baku buah-buahan dan sayuran. Disamping cabai, juga ada manisan lainnya seperti asam glugur, papaya, buah renda, jeruk kesturi, tomat, labu jepang, nenas, paria, kolang kaling dan wortel.

Adalah Ima, warga Jalan Flamboyan Raya Lingkungan III, Tanjung Selamat, salah satu perajin manisan khas Melayu (Halua) dengan menggunakan buah dan sayur segar. "Yang unggulan kita itu cabai," kata Ima kepada MedanBisnis, Ahad lalu.

Dikatakannya, manisan cabai banyak diminati. Ini karena keunikannya, sebab cabai tidak lazim dijadikan manisan. Meski demikian, saat ini, sudah ada beberapa perajin yang juga memproduksi manisan cabai, namun tetap saja, pondok halua Delima yang dicari konsumen.

Ima menegaskan, mereka tidak menggunakan bahan pengawet dan produknya, karena secara alami gula sudah merupakan pengawet dan bisa bertahan hingga satu tahun. Demi hasil baik, bahan baku kualitas terbaik, khususnya cabai didatangkan Ima dari Jawa.

"Kita pakai cabai gombong. Cabai ini memang tidak begitu terasa pedas dibandingkan cabai lainnya. Hasilnya, manisan cabai ini, montok seperti aslinya," kata Ima.

Untuk pemasaran, Ima mengaku tidak begitu antusias menggarap pasar yang jauh. Dia memilih fokus menggarap pasar domestik yang dinilainya potensial. Apalagi haluanya sudah diserap pasar hampir seluruh nusantara dan Malaysia. Apalagi sekarang ini sudah dikenal pula sebagai oleh-oleh khas Medan.

"Di tahun 2004, sempat ada permintaan dari Singapura, akan tetapi yang menjadi pertimbangan sumber daya manusia," kata Ima sebagai alasannya tidak menerima permintaan tersebut. Apalagi sambungnya, buah-buahan yang dibutuhkan sebagai bahan baku terbatas dan tergantung musim. "Ekspor kan tidak segampang itu, tapi harus dipikirkan faktor lain," tambahnya.

Sejauh ini, dia mengaku pemasarannya masih dilakukan sendiri dan menitipkannya di beberapa toko kue. Dia menilai, manisan ini sebenarnya sangat potensial untuk dijadikan oleh-oleh khas Medan, hanya saja konsumen banyak yang tidak tahu dimana tempatnya membelinya. Itu karena promosi kurang dan instansi terkait juga belum maksimal menyokong pengembangan pasar produk-produk UKM.

Karenanya, dia berharap adanya sentra oleh-oleh khas kota medan. "Semacam showroom-nya UKM," katanya. Begitu pun dia masih mampu meraih omzet perbulan pada kisaran Rp 3 hingga Rp 5 juta.

 

Sumber artikel/foto : medanbisnisdaily.com