PENDIDIKAN DAN KESEHATAN DALAM UPAYA PENINGKATAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA

dibaca 718 pembaca

Pengembangan suatu wilayah tidak terlepas dari pengembangan sumber daya manusia. Pengembangan sumber daya manusia dimaksud untuk meningkatkan fungsi dan perannya dalam menata kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. Sumber daya manusia dapat dipandang dari dua aspek, yakni aspek kuantitas dan aspek kualitas. Aspek kuantitas menyangkut jumlah sumber daya manusia sedangkan aspek kualitas menyangkut mutu sumber daya manusia tersebut, yang termasuk di dalamnya kemampuan nonfisik (kecerdasan dan mental).


Bank Dunia (1988) mengemukakan pengertian pengembangan sumber daya manusia atau pembangunan manusia (human development) mengandung unsur-unsur pendidikan dan latihan, kesehatan dan gizi, kesempatan kerja, lingkungan hidup yang sehat, pengembangan di tempat kerja, dan kehidupan politik yang bebas. Dalam beberapa unsur yang telah disebutkan, Bank Dunia menyebutkan satu unsur yaitu keadaan politik yang bebas. Hal ini menjadi penting karena berhubungan dengan pelaksanaan hak azasi manusia sebagai tolok ukur keberhasilan pembangunan manusia dari suatu negara.


Secara umum, menurut Bank Dunia (1988), pengembangan sumber daya manusia sendiri merupakan upaya untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia melalui investasi yang ditanamkan pada masyarakat yang banyak dititikberatkan pada aspek pendidikan dan kesehatan melalui program-programnya. Unsur pendidikan dan latihan kerja memiliki komponen pembentuk yaitu pendidikan formal dan informal yang pada akhirnya diharapkan dapat mengisi kesempatan kerja dan bahkan mampu menciptakan kesempatan kerja. Sedangkan unsur kesehatan dan gizi menjadi perhatian untuk membangun produktivitas masyarakat dari pola hidup sehat dan pengobatan-pengobatan.


Sampai saat ini, masih terdata di beberapa daerah bahwa sebagian besar penduduk tinggal di daerah perdesaan. Di perdesaan, pada umumnya profil sumber daya manusia yang dimiliki adalah masyarakat miskin, dibebani berbagai jenis pekerjaan, buta aksara, bertanggungjawab atas kesehatan dan kesejahteraan anggota keluarganya. Para peneliti memiliki anggapan sementara bahwa masalah kekurangan gizi dan tingkat kesehatan masyarakat yang rendah di perdesaan diakibatkan oleh kemiskinan. Anggapan ini diutarakan oleh Tjiptoherijanto (1989) bahwa sangat memungkinkan sekali apabila derajat kesehatan diperbaiki serta kecukupan gizi dipenuhi, pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi juga akan dinikmati. Pengaruh dari program gizi terhadap produktivitas yang pada kemudiannya juga akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi. Perbaikan status gizi dan peningkatan derajat kesehatan akan menurunkan tingkat kematian dan kesakitan dan juga akan meningkatkan efisiensi kerja melalui peningkatan individualnya.


Namun begitu, masih perlu dipahami bahwa kesadaran akan pentingnya perbaikan gizi dan kesehatan oleh masyarakat pada umumnya dapat diperoleh melalui pendidikan. Baik pendidikan formal dari lembaga pendidikan formal, pendidikan non-formal melalui pelatihan, dan pendidikan in-formal melalui pendidikan dalam keluarga dan lingkungan. Ini dimungkinkan karena pendidikan memberikan kontribusi kepada individu sebagai sumber daya yang memiliki kemampuan berfikir untuk menilai keadaan dan menganalisa permasalahan. Berkaitan dengan itu, menurut Heyzer (1995), konsensus yang berkembang di tengah masyarakat adalah bahwa pendidikan merupakan kunci pemberdayaan masyarakat, baik pria maupun wanita, karena pendidikan dapat meningkatkan pendapatan, kesehatan, dan produktivitas.


Oleh karena itu, pentingnya aspek pendidikan dan kesehatan dalam pengembangan sumber daya manusia merupakan upaya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dan diharapkan mampu memberikan pengaruh terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan.

 

Penulis,

SYAFRIDA DAMANIK