RAJA MUDA DAN PUTRI BURUNG KUAU

dibaca 219 pembaca

RAJA MUDA DAN PUTRI BURUNG KUAU

Diceritakan kembali oleh Teja Purnama

 

Apa yang sedang melanda hati Raja Muda? Sudah sepekan ini dia sering termenung di halaman belakang istana. Makanan yang disajikan selalu bersisa banyak. Wajahnya tampak lelah. Sangat terlihat tidur malamnya berkurang.  Apa yang sedang terjadi di hatinya?

Pertanyaan itu  berkembang di benak Kembang Kipas Cina, pengasuh Raja Muda. Tentu saja Kembang Kipas Cina sangat mengenal Raja Muda.  Sejak Raja Muda bayi, dia telah mengasuhnya.  Dia tahu apa makanan dan minuman kesukaan Raja Muda. Dia bisa mengerti saat-saat Raja Muda merasa sedih dan tak ingin diganggu. Dia sudah merasa dekat dengan Raja Muda. Bahkan sudah serasa adik sendiri saja. Wajar saja jika Raja Muda risau, hatinya ikut risau.

Pada suatu sore yang mendung, Kembang Kipas Cina pun mendatangi Raja Muda yang tengah duduk di belakang istana. Raja Muda tengah memegang busur panah. Pandangannya kosong.

Kembang Kipas Cina mendehem. Raja Muda tersentak.

“Ampunkan hamba, Putra Mahkota,” hormat Kembang Kipas. “Bukan maksud hamba membuat Pangeran terkejut...” lanjutnya.

            Walau terkejut dengan kehadiran Kembang Kipas Cina, Raja Muda tidaklah marah. Dia malah tersenyum. Senyum itu tidak bisa menyembunyikan kerisauan di hatinya.

“Tidak mengapa Kakak Pengasuh. Dari kecil aku telah Kakak asuh. Betapa tak berbudinya aku, jika marah hanya karena terkejut?” ucap Raja Muda.

“Terpujilah Pangeran dengan segala kebaikan hatinya,” puji Kembang Kipas Cina.

“Sekarang, katakan, apa gerangannya yang membuat Kakak Pengasuh menjumpaiku di sini?” tanya Raja Muda sembari meletaknya busur panahnya ke atas meja.

“Ampun, Pangeran.  Sebelumnya diberi maaf atas kelancangan ini. Patik hanya ingin bertanya, apa lagi yang bisa menyusahkan Pangeran? Tuanku adalah putra Raja yang sangat berkuasa di Sumatera Timur ini. Kebanggaan Raja dan Permaisuri. Pewaris sah Kerajaan. Rakyat pun mencintai Pangeran.  Dengan segala anugerah ini, apalah yang bisa membuat Pangeran murung seperti ini?” tanya Kembang Kipas Cina.

Raja Muda dapat memahami rasa penasaran Kembang Kipas Cina. Dia tahu, Kembang Kipas Cina sangat sayang padanya.

“Kakak Pengasuh, aku merasa sepi. Aku lihat pangeran-pangeran dari kerajaan lain sudah memiliki pasangan hidup. Aku jadi tambah merasa sepi. Terkadang kesepian ini membuatku tidak bersyukur pada anugerah yang kudapat. Aku tidak menyukuri mempunyai ayah bunda yang memiliki kerajaan yang luas ini. Sungguh tidak berbudi aku...” ucap Raja Muda.

Kembang Kipas Cina akhirnya mengerti. Pangeran risau karena belum juga mempunyai kekasih. Apalagi Raja dan Permaisuri selalu mengajak Raja Muda menghadiri perayaan pernikahan pangeran maupun putri dari kerajaan lain.  Melihat kegembiraan berbagai pasangan mempelai itu,  tentu saja keinginan Raja Muda menjadi lebih kuat.

“Maafkan Patik yang lancang ini, Pangeran. Jodoh telah ditentukan Sang Khalik, Pencipta Semesta. Tetapi jangan pula putus harapan. Gadis mana tak mengakui ketampanan dan kegagahan Pangeran? Kita harus terus berusaha dan tentu diringi doa. Sang Khalik Maha Mengetahui apa yang baik bagi mahluk-Nya,” ucap Kembang Kipas Cina tanpa menghilangkan rasa hormatnya pada Raja Muda.

 Raja Muda terpana mendengar perkataan pengasuhnya itu. Dia tidak menyangka, Kembang Kipas Cina ternyata begitu bijak dan beriman.

“Terima kasih, Kakak. Aku akan selalu ingat nasihatmu ini,” kata Raja Muda.

“Apalah hebatnya Patik menasihati Pangeran? Patik hanya mengingatkan. Lancar kaji karena diulang,” ujar Kembang Kipas Cina.

Raja Muda tersenyum. Kali ini lebih lepas. “Ada lagi yang ingin Kakak sampaikan?” tanyanya.

Kembang Kipas Cina mengangguk.

“Apa itu?” tanya Raja Muda.

“Jangan biarkan perasaan membuat Pangeran melewati malam-malam dengan lamunan. Perasaan ada pada diri kita. Kita jualah yang bisa mengendalikannya. Tidurlah malam ini dengan lelap. Tanggalkanlah semua risau sebelum Pangeran menaiki ranjang. Berdoalah sebelum tidur,” sebut Kembang Kipas Cina.

Raja Muda tertawa.  “Baik, baik, Kakak. Aku akan tidur cepat dan nyenyak  malam ini,” ucapnya.

Beberapa waktu setelah pembicaraan itu,  malam pun tiba. Cuaca serasa sejuk. Tidak seperti malam-malam kemarin, rasa kantuk begitu kuat menyergap Pangeran. Seperti orang kelelahan dan tidak tidur bermalam-malam, Pangeran pun langsung terlelap beberapa saat setelah naik ke ranjangnya.

Seekor kucing tengadah di atap istana. Langit penuh bintang malam itu. Bulan bersinar terang. Lalu dengan langkah anggun kucing itu berjalan dan menerobos jendela kamar Raja Muda selalu tidak dikunci itu. Kucing itu mengelus-elus kaki Raja Muda dengan ekornya panjang dan lembut. Beberapa saat kemudian, kucing itu mencakar pelan telapak kaki Raja Muda. Raja Muda pun terbangun dan melihat seorang nenek berselendang hijau duduk di sisi ranjangnya. 

Raja Muda kaget, namun tidak terlintas takut sedikit pun di hatinya. Wajah nenek itu lembut, menyejukkan dan berkharisma.

“Siapa gerangan engkau, wahai perempuan tua? Bagaimana engkau bisa masuk ke kamarku?” tanya Raja Muda.

Nenek Berselendang Hijau itu tersenyum. “Jangan bertanya. Dan tak perlu Pangeran tahu siapa aku,” ujar Nenek.

“Jadi apa yang membuat engkau menemuiku?”

“Kegelisahanmu, keinginanmu. Itulah yang membawa aku menemuimu, Pangeran.”

Raja Muda terdiam.

Nenek Bersendang Hijau kembali berkata,”Dengarlah, Pangeran. Jika memang keinginanmu kuat menemukan kekasih untuk disunting menjadi istri, pergilah ke pantai di dekat rumah Nenek Kebayan.  Di depan rumah Nenek Kebayan itu ada pohon Kelapa Gading.  Di sana sering turun para putri kayangan berwujud burung Kuau.... Pergilah, jemputlah kekasihmu di sana....”

Sedetik kemudian, Nenek Berselendang Hijau menghilang.

Raja Muda terbangun. Tak ada Nenek Berselendang hijau. Tak lagi kucing. Raja Muda sadar bahwa dia telah bermimpi.  Mimpi itu serasa begitu nyata. Raja Muda yakin mimpi itu memberikan pesan untuknya. Pesan yang harus dijalaninya jika dia memang ingin menemukan istri.

Keesokan harinya, Raja Muda menghadap Ayah dan Bunda. Dia menceritakan mimpi itu. Sama seperti pendapatnya, Ayahanda Raja dan Ibunda Permaisuri juga menilai mimpi itu adalah sebuah pesan.

“Jika memang kau ingin menemukan kekasih hati, ikutilah pesan itu,” ucap Ayahanda Raja.

Setelah mendapat restu, Raja Muda pun pergi menuju rumah Nenek Kebayan yang menurut mimpi itu ada di pinggiran pantai. Tidak lupa pula dibawa sebuah sangkar.

Bukanlah sulit menemukan rumah yang di depannya ada pohon Kepala Gading. Tanpa memakan banyak waktu, dia menemukan tempat yang dikatakan Nenek Berselendang Hijau.  Raja Muda berhenti di dekat pohon Kepala Gading yang tumbuh di depan sebuah rumah di pinggir pantai.

Raja Muda memandang sekeliling. Dia  berpikir, burung Kuau itu tidak akan mau turun jika melihatnya. Dia harus mencari tempat persembunyian. Tentu saja persembunyian itu tidak boleh jauh dari pohon Kepala Gading. Tetapi di mana?  Tak ada tempat tertutup di sini.

Sebuah ide menerangi pikirannya. Raja Muda pun membuat sebuah tempat persembunyian dari pasir. Dengan sepenuh hati dia mulai menimbun badannya dengan pasir dan menutupi wajahnya dengan tempurung kelapa. Lalu dia berdiam dalam penantian. Sabar dan sabar. 

Setelah hampir tertidur, yang dinanti pun tiba. Sekumpulan burung Kuau yang bertubuh dan bersayap indah tampak melayang di langit. Burung-burung mengitari pohoh Kelapa Gading. Kepala burung-burung yang menoleh ke berbagai arah membuat pemandangan menjadi indah dan lucu.

Raja Muda mengatur nafas. Dia tidak ingin burung-burung itu mengetahui keberadaannya di pantai ini.

Burung-burung menjejakkan kakinya ke pohon Kepala Gading. Terbang dari satu dahan ke dahan lain. Dari balik tempurung kelapa, Raja Muda menghitung jumlah burung Kuau itu. Ada tujuh ekor. Dia merasa tidak perlu memilih mana yang harus ditangkap. Targetnya adalah burung yang paling dekat persembunyiannya yang akan ditangkapnya.

Yeah! Seekor Kuau mendekati persembunyian Raja Muda. Burung itu merupakan bungsu dari ketujuh Kuau itu.

Degub jantung Raja Muda makin cepat. Namun dia tetap berusaha tenang. Dia tidak mau gegabah. Burung itu akan ditangkapnya setelah benar-benar dekat dan dapat dijangkau dengan mudah oleh tangannya.

Saudara Sulung Kuau khawatir melihat adik bungsunya yang terpisah dari rombongan. Dia berseru memanggil adiknya. Sayang, Kuau Bungsu tidak juga mendengarnya, malah makin asik melenggak-lenggok mendekati persembunyian Raja Muda.

Untung pun tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak! Tanpa disangka-sangka, tangan Raja Muda yang terkenal sebagai pemburu lihai itu sudah mencengkram kaki Kuau Bungsu.

Kuau Bungsu menjerit, cengkraman tangan Raja Muda kian kuat. Saudara-saudara Kuau Bungsu tak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa berdendang sedih:

“Kuau... Kuau... Kuau.... Kuanjang....

Itulah adik kataku tadi

Jangan kau titi batang di lumbung padi

Adalah batang batu menjadi.

Kuau... Kuau... Kuau.... Kuanjang...

Kalaulah air dalam ada tikasnya

Kalaulah batang ada tunggulnya

Itulah batang si lumbung padi

Itulah batang baru menjadi.”

Berulang-ulang dendang itu dilantunkan sebelum pada akhirnya saudara-saudara Kuau Bungsu terbang ke angkasa, kembali ke kayangan. Tinggallah Kuau Bungsu di bumi. Tinggallah Kuau Bungsu berkicau sedih dalam sangkar yang telah disiapkan Raja Muda. Tinggallah Kuau Bungsu yang tak berdaya dibawa Raja Muda ke istana.

Sampai di istana, Raja Muda memindahkan Kuau Bungsu ke sangkar yang mewah dan besar. Raja Muda tidak ingin jauh dari Burung itu. Ditempatkannya sangkar itu di dalam kamarnya. Dia ingin selalu melihat dan mendengar kicau Kuau Bungsu.  Sebenarnya Raja dan Permaisuri kurang setuju Kuau itu ditempatkan di kamar Raja Muda. Namun mereka tidak tega mematahkan keinginan anaknya.

Sudah dua hari Kuau Bungsu berada di dalam sangkar mewahnya. Selama dua hari itu pula dia bermuram durja. Makanan dan minuman yang disediakan Kembang Kipas Cina juga tidak disentuhnya. Kicaunya pun jadi sendu. Namun, sesendu apa pun kicaunya, Raja Muda kian suka dan selalu terlena mendengarnya.

Dalam kicaunya, Kuau Bungsu pun berdoa, meminta petunjuk pada Sang Pencipta.  Setiap malam kicauan doa itu dipanjatkannya dengan penuh kesungguhan. Setiap mendengar kicauan doa itu, Raja Muda terlena dan segera tertidur.

Pada suatu malam, terjadi keajaiban. Satu persatu bulu-bulu Kuau Bungsu tanggal. Pelan-pelan, burung itu menjelma Putri yang cantik jelita.  Hatinya pun tergerak begitu saja untuk keluar dari sangkar. Tidak terbersit keinginan Putri jelmaan Kuau Bungsu itu melarikan diri dari istana Raja Muda. Dia malah membereskan kamar Raja Muda. Putri juga pergi ke dapur dan memasak masakan kesukaan Raja Muda. Saat fajar merekah, masakan telah siap dan disajikannya di meja kamar Raja Muda. Setelah itu, Putri kembali menjelma burung Kuau dan masuk ke sangkar mewahnya.

Matahari belum terbit saat Raja Muda terbangun. Dia melihat makanan tersaji di meja kamarnya. Saat itu pula didengarnya kicau Kuau Bungsu. Kicau itu tak lagi sendu, namun mengandung kebahagiaan. Seketika selera makan muncul. Setelah membasuh wajah, dia pun menyantap hidangan tersebut. Lezat rasanya.

Setelah menyantap habis makanan itu, Raja Muda ingat sesuatu. Tidak pernah Kembang Kipas Cina menghidangkan makanan sepagi ini, pikirnya. Untuk menghilangkan rasa penasarannya, dia pun memanggil Kembang Kipas Cina.

“Kakak Pengasuh, lezat benar makanan yang Kakak sajikan ini,”  ucap Raja Muda kepada Kembang Kipas Cina.

Kembang Kipas Cina terkejut. Dia melihat piring dan gelas telah kosong. Nampak pula beberapa rimah makanan di meja. Artinya, Raja Muda baru saja makan. Tetapi siapa yang memasak dan menghidangkan makanan ini ke kamar Raja Muda? Hati Kembang Kipas Cina juga ikut bertanya-tanya.

“Maafkan Patik, Pangeran. Patik baru saja hendak memasak. Makanan ini bukanlah masakan Patik,” jelas Kembang Kipas Cina.

Raja Muda terdiam, namun hatinya rusuh. Siapa pula yang memasak makananya untuknya?

“O, begitu?. Ya, sudahlah. Tinggalkanlah aku sekarang,” kata Raja Muda tidak ingin menyampaikan keheranannya pada Kembang Kipas Cina.

Keesokan harinya, peristiwa serupa terjadi lagi. Raja Muda semakin penasaran. Dia pun bertekad untuk mengetahui apa sesungguhnya yang telah terjadi. Dia ingin tahu, siapa orang yang begitu leluasa masuk dan memasak di istana di saat semua orang  tidur?

Malam harinya, Raja Muda pun naik ke ranjangnya. Dia pura-pura tidur dengan lelap. Dengan penuh kewaspadaan dia menunggu. Raja Muda jadi teringat saat dia menangkap burung Kuau dulu di depan rumah Nenek Kebayan. Suasana perasaannya  saat ini persis seperti saat ini pula. Dia mengatur nafas pelan-pelan. Menunggu  dengan sabar. 

Sesaat-saat terdengar suara aneh. Suara itu begitu mengerikan. Raja Muda masih pura-pura tidur. Matanya masih terpejam, namun telinga terus mendengar suara mengerikan itu. Berdiri bulu-bulu halus di tengkuknya. Suara itu seperti kresek daun dan kepakan sayapan burung.  Rasa penasarannya kian membesar. Raja Muda tidak tahan lagi terus memejamkan mata. Pelan-pelan dia membuka mata. Masih dalam keadaan telentang, dia menoleh ke arah suara.

Apa yang disaksikannya sungguh tidak masuk akal.  Dia melihat Kuau Bungsu menjelma menjadi Putri  cantik jelita.  Raja Muda menahan diri menangkap Putri itu. Dia berpura tidur, namun dari pendengarannya bisa tahu Putri sedang membereskan kamarnya.  Setelah membereskan kamarnya, Putri itu pun keluar. 

“O, Tuhan. O, Tuhan,” sebut Raja Muda dalam hati. Sekarang dia tahu, burung Kuau itulah, Putri itulah yang membereskan kamar dan memasakkan makanan untuknya selama beberapa hari ini.

Pelan-pelan Raja Muda bangkit dari ranjangnya. Dia berjalan menuju sangkar. Tampak bulu-bulu burung Kuau bertumpuk di tengah sangkar mewah dan besar itu.  Saat itu Raja Muda juga mencium aroma bumbu yang merebak dari dapur istana.  Putri itu pasti sedang memasak, pikirnya.  Dengan perasaan yang tak terlukiskan, Raja Muda pun mengumpulkan seluruh bulu-bulu itu dan menyembunyikannya di kolong ranjang.  Setelah itu, Raja Muda kembali naik ke ranjang dan pura-pura tidur. Dia ingin menyaksikan apa yang akan dilakukan Putri itu saat masuk kembali ke sangkarnya.

Setelah memasak dan menghidangkan makanan ke meja kamar, Putri kembali ke sangkarnya.  Sungguh terkejut dia. Tak ada lagi bulu-bulunya di dalam sangkar. Padahal tanpa bulu-bulu itu dia tidak bisa menjelma lagi menjadi burung Kuau. Putri kebingungan.

Raja Muda menyaksikan semua itu dengan berbagai rasa. Ada perasaan lucu, kasihan, namun entah kenapa dia jadi begitu suka pada Putri tersebut. Raja Muda tetap menahan diri. Dia terus berpura tidur.

Putri yang merasa bingung pun segera keluar dari kamar Raja Muda. Dia bersembunyi di halaman belakang istana.

Saat Putri telah keluar dari kamarnya, Raja Muda pun bangkit. Seolah tidak mengetahui apa yang telah terjadi, dia pun berseru memanggil Kembang Kipas Cina.

“Ampun, Pangeran. Ada apa gerangan Pangeran berteriak memanggil?” tanya Kembang Kipas Cina.

Raja Muda menunjuk sarang burung yang telah kosong melompong. “Kemana burung Kuau-ku?”

Kembang Kipas Cina terkejut. Pintu sangkar terbuka lebar.  “Biar, biar Patik cari, Pangeran,” ucapnya.

“Ya, carilah segera,” jawab Raja Muda.

Kembang Kipas Cina mengitari seluruh ruangan di dalam istana. Tidak ada burung Kuau. Dia pun keluar istana. Dilihatnya dengan teliti setiap sudut di halaman depan, namun dijumpai juga apa yang dicarinya. Dia pun ke belakang istana. Kembang Kipas Cina melihat Putri meringkuk ketakutan di balik pohon pisang.

Pengasuh Raja Muda itu terkagum-kagum. Putri yang ketakutan itu sangatlah jelita. Dalam hatinya dia berkata, mungkin Raja Muda suka dengan perempuan ini.

“Janganlah takut Dinda. Mari masuk. Raja, Permaisuri, dan Pangeran sangatlah bijak dan baik hati. Ayo kita temui mereka,” ajak Kembang Kertas Cina.

Di hadapan Raja, Permaisuri, dan Raja Muda, Putri jelmaan burung Kuau itu pun bersimpuh. Putri mengakui, dirinya merupakan jelmaan burung Kuau. Dia juga tidak membantah telah memasak makanan untuk Raja Muda.

Saat itu, tidak sedikit pun pandangan Raja Muda lepas dari Putri. Raja dan Permaisuri pun segera tahu, bahwa anak mereka menyukai Putri ini.  Kemudian Permaisuri pun berbisik kepada Raja. Setelah itu Raja pun berkata kepada Putri.  “Tetaplah kau di sini. Anggaplah istana ini rumahmu juga,” titah Raja.

Sejak itu, Putri tinggal di istana. Setiap hari dia tetap memasak untuk Raja Muda. Setiap hari pula mereka bercengkerama di taman istana. Lama kelamaan, rasa sayang dan cinta pun tumbuh pada hati Putri dan Raja Muda. Dan sesuai dengan perkiraan Permaisuri, Raja Muda pun datang menghadap, memohon restu agar bisa menikahi Putri. 

Restu tak sulit didapat. Raja dan Permaisuri menilai Putri sangat cocok untuk anaknya. Putri itu bukan hanya pintar memasak, perangainya juga sangat baik.  Pernikahan pun digelar.  Raja Muda dan Putri sah sebagai suami-istri.

Waktu berlalu begitu cepat.  Raja dan Permaisuri telah mangkat. Raja Muda naik tahta mengganti Ayahanda. Putri pun telah menjadi Permaisuri. Kehidupan pasangan ini jauh dari kesedihan. Apalagi mereka telah mempunyai seorang anak lelaki yang mewarisi ketampanan Raja Muda.

Pada suatu hari, saat akan tidur siang di ranjangnya, Raja Muda mendengar anaknya bersiul-siul. Siul itu sungguh merdu dan mengingatkannya pada kicau burung Kuau. Dia jadi rindu mendengar kicau itu.  Entah kenapa pula, kerinduan itu kian membuncah dan mengganggunya. Dia pun tak jadi tidur siang.

Ketika malam tiba, keinginan itu bertambah besar. Dia pun mengutarakan keinginan tersebut kepada Putri.

“Aku rindu mendengar kicau Kuau.  Dendang kicau saudaramu saat mereka terbang meninggalkanmu di pantai itu, di dekat pohon Kelapa Gading itu... Maukah kau mendendangkannya untukku,” pinta Raja Muda.

“Jangan, nanti kau menyesal, Paduka,” tolak Putri.

“Apa pula yang akan disesali. Ayolah, jangan takut. Malam ini saja. Berikan kicauan yang kurindukan itu,” desak Raja Muda.

Putri bingung. Dia takut terjadi sesuatu jika dia berkicau. Namun di sisi lain dia tidak ingin menjadi istri yang durhaka.

“Ayolah, Permaisuriku. Aku begitu merindui kicaumu berdendang. Bisa gila aku jika tak mendengarnya malam ini,” pinta Raja Muda lagi.

Putri pun tak bisa menolak.  Dengan lirih dia pun berdendang dalam kicaunya.

“Kuau... Kuau... Kuau.... Kuanjang....

Itulah adik kataku tadi

Jangan kau titi batang di lumbung padi

Adalah batang batu menjadi.

Kuau... Kuau... Kuau.... Kuanjang...

Kalaulah air dalam ada tikasnya

Kalaulah batang ada tunggulnya

Itulah batang si lumbung padi

Itulah batang baru menjadi.”

Raja Muda begitu menikmati dendang kicau itu. Dan tidak puas-puas. Dia  meminta Putri terus berdendang.

“Lagi,  lagi sayang. Aku begitu menikmatinya. Lagi....” pinta Raja Muda seperti orang mabuk.

Putri tidak sampai hati menolaknya. Dia kembali berdendang dalam kicaunya. Dan makin lama, nada suara Putri kian meninggi. Angin pun masuk menerobos jendela kamar. Putri terus berdendang. Raja Muda makin hanyut dalam kenikmatan.

Sesaat-saat bulu-bulu burung Kuau keluar dari kolong ranjang. Melayang-layang di udara dan mengitari tubuh Putri. Dendang terus berkumandang. Putri hanyut dalam dendangnya. Suaranya kian meninggi. Suara itu kian aneh, kian menyeramkan. Angin kian kencang berhembus di kamar itu. Bulu-bulu Kuau kian cepat pula mengeliling tubuh Putri. Dan sesaat-saat, Putri berubah. Putri kembali menjelma menjadi burung Kuau. Dalam sekejap,  burung Kuau terbang melesat lewat jendela. Dalam kesedihannya, burung Kuau kembali ke kayangan.

Angin telah reda. Dendang telah hilang. Raja Muda tersadar dari kenikmatan yang membiusnya. Tak dilihatnya lagi Putri. Dia berseru memanggil Putri. Namun  Putri tak datang juga.  Dipanggilnya seluruh orang di istana. Tak satu pun di antara orang-orang itu melihat Putri. Dengan penuh kecemasan dia memerintahkan seluruh pengawal untuk mencari Putri.

Sayang, yang dicari tak juga ketemu. Raja Muda tenggelam dalam kesedihan. Rasa sesal mengakar di hatinya. Dia sadar, penyesalan inilah yang dimaksudkan Putri saat menolak berkicau dulu. Rindunya pada Putri pun membesar.  Tiba-tiba dia ingat sesuatu.

“Bulu! Bulu Kuau!” serunya dalam hati lalu segera memeriksa kolong ranjangnya.  “Kemana? Kemana?” tanyanya panik saat melihat tak ada sehelai bulu Kuau pun di kolong ranjangnya. Raja Muda tidak dapat menerima kenyataan. Dia berlari keluar istana sambil terus berteriak-teriak.

Jiwanya terguncang, sangat terguncang.

Dia menjadi gila dalam kesepian yang berkepanjangan.


PUTRI HIJAU

PENDEKAR BURUK RUPA