Pendekar Buruk Rupa (Part 2)

dibaca 491 pembaca

Pendekar Buruk Rupa (Part 2)

Di atas batu besar, di tengah sebuah sungai, pemuda belasan tahun itu hanyut dalam galau. Gemilang namanya. Terlihatnya lagi wajahnya sendiri di jernih air. Hatinya serasa tertusuk puluhan duri. Sepasang mata yang besar sebelah, hidung nyaris rata dengan pipi. Dan daging lunak yang bergelantung di kening kirinya seolah terus mengejek hidupnya.  Wajah apa ini! Demikian hatinya selalu berteriak saat berkaca di sungai.

Tanpa sadar, dia membasuh wajahnya dengan air sungai yang sejuk. Berulang-ulang, sampai kesejukan itu mengalir ke hatinya. Dia kembali ingat tujuannya ke sungai ini. Ya, dia ingin memeriksa bubu yang semalam dipasangnya.

“Kenapa tidak ada lagi ikan yang terjerat?” tanyanya dalam hati saat melihat bubunya kosong. Dia heran, sudah beberapa hari ini tidak seekor ikan pun terperangkap di dalam bubunya. Ini bukan kejadian yang biasa. Pemuda itu merasa ada sesuatu yang terjadi. Sambil terus berpikir, Gemilang kembali memasang bubu di sungai itu.

Tiba di rumah, menceritakan soal bubu itu kepada ayahnya.  Ayahnya yang biasa disapa Jerangkong itu lebih banyak mendengar, tidak banyak komentar.

 “Belum rezeki. Sabar, usaha jangan berhenti,” hibur ayahnya.

Ya, belum rezeki. Itu benar, pikir Gemilang dalam hati. Usaha jangan berhenti, itu juga benar. Dan usaha yang harus dilakukan adalah mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi pada bubu yang dipasang di sungai. Gemilang pun memutuskan pergi kembali ke sungai, mengintai bubu yang dipasangnya di sana.

“Aku ke sungai lagi, Yah,” ucapnya meminta izin.

Ayahnya juga tidak banyak komentar. “Ya, hati-hati,” kata ayahnya.

Gemilang bersembunyi di balik sebuah pohon yang tidak jauh sungai. Dari balik pohon itu, dia bisa mengintai dengan aman. Dia bisa melihat dengan jelas ke arah sungai.

Sembari mengingat jurus-jurus silat yang diajarkan ayahnya, Gemilang terus mengintai. Sejak kecil dia memang sudah berlatih silat. Berbagai jurus dia kuasai. Jurus Harimau dengan berbagai pecahannya, Jurus Monyet, sampai Jurus Ular telah menyatu dengan tubuhnya. Tenaga dalamnya pun telah pula teruji setelah melewati berbagai latihan keras yang diberikan ayahnya.

Walau pun telah menguasai berbagai ilmu silat, Gemilang selalu berusaha menyembunyikan kemampuannya. Tidak pernah sekalipun ia menunjukkannya, kecuali dalam keadaaan terpaksa. Suatu hari pernah seekor gajah mengamuk di ladang. Dengan kekuatan dan keahliannya, Gemilang berhasil menggiring gajah tersebut masuk ke hutan. Pernah pula dia bertarung dengan harimau untuk menyelamatkan nyawa seorang anak kecil. Tidak sekali pula dia menghajar perompak yang beraksi di kampung dekat tempat tinggalnya.

Tak terasa, malam pun tiba. Gelap menyergap hari. Cahaya bulan temaran. Hanya ada satu dua bintang di langit. Gemilang masih mengintai. Sesaat-saat, dia melihat satu sosok yang bertubuh bongkok masuk ke sungai dan mengambil bubu yang dipasangnya. Tanpa merasa bersalah sosok bongkok itu mengambil ikan-ikan yang terjerat di bubunya. Gemilang geram. Hanya dengan dua kali lompatan, Gemilang sudah mencengkeram leher sosok yang ternyata seorang kakek itu.

“Maaf, maafkan aku, anak muda. Aku terpaksa,” pinta kakek bongkok itu.

Gemilang melepaskan cengkeramannya. Kakek bongkok itu pun terduduk lemas. Dengan nafas yang masih memburu, kakek mengeluhkan hidupnya yang sebatang kara dan terpaksa mencuri ikan yang terperangkap di bubu Gemilang.

“Kakek tidak perlu mencuri. Minta saja padaku,” kata Gemilang pada kakek tersebut.

Kakek itu tersenyum tersenyum. Ada keanehan dalam senyum itu.

“Buruk wajahmu, indah hatimu,”  ujar kakek itu, suaranya berubah berwibawa.

Berdebar dada Gemilang mendengar suara kakek tersebut. Tidak hanya itu, Gemilang juga melihat tubuh kakek yang tadinya bongkok, kini telah tegak dan tegap. Wajah tua itu begitu berkharisma.

Dengan lembut, kakek menepuk-nepuk dan memegang lama bahu Gemilang. Telapak tangan Kakek itu begitu bertenaga namun lembut. Ada sesuatu yang menerobos masuk  ke dalam tubuhnya. Semacam hawa hangat, yang membuat tubuhnya begitu ringan namun penuh bobot. Gemilang dipenuhi energi.

“Kini kau telah menjadi pemuda paling kuat kini. Tetaplah merunduk.  Dan ingat, jangan pernah tenggelam dalam kesedihan tak berdasar,” kata kakek itu seraya mengeluarkan tiga buah uncang dari saku celana. “Terimalah tiga gundu ini. Pergunakanlah di saat yang tepat,” pesannya lalu dalam sekejap menghilang dari hadapan Gemilang.

Setelah kejadian itu, menyala semangat baru dalam diri Gemilang. Semangat itu pula yang mendorongnya untuk bertualang, mencari pengalama ke dunia baru. Dengan berbekal kesaktian dan restu ayahnya, Gemilang pun mulai bertualang.

Petualangan menorehkan berbagai pengalaman berharga dalam kehidupan. Dia selalu membela kebenaran dan membela orang lemah. Kiprahnya di dunia kependekaran kian mengkilap ketika dia mengalahkan Kepala Bajak Laut yang kebal dan kejam, Bajonggir.

Waktu itu, Gemilang sedang berlayar sendiri. Dia melihat Bajonggir dan anak buahnya menyerang sebuah kapal. Ternyata di kapal itu milik salah satu kerajaan di Malaka. Dan saat itu Raja beserta keluarga berada di dalam kapal.

Gemilang membantu para pengawal kerajaan melawan Bajonggir dan anak buahnya. Dengan kesaktiannya yang tinggi, Gemilang dapat menghalau seluruh anak buah Bajonggir. Dalam  sebuah pertarungan yang singkat, Gemilang dengan mudah melumpuhkan Bajonggir. Gemilang tidak membunuh bajak laut tersebut. Dia merangkul mereka dan mengajak para bajak laut itu untuk hidup dalam kebenaran.

Usai aksi panyelamatan itu, Gemilang diajak ke Malaka. Dia menjadi orang kepercayaan Raja dan kemudian diangkat menjadi Panglima Perang. Gemilang semakin gemilang. Disegani kawan, ditakuti lawan. Orang-orang menjulukinya Pendekar Buruk Rupa.

Suatu hari, setelah bertahun-tahun hidup di Malaka, Gemilang mendengar kabar buruk dari Deli. Kerajaan yang dipimpin Kelewang Santana dalam bahaya. Ini berarti ayahnya yang tinggal di Kerajaan itu juga terancam. Bahaya datang dari Kerajaan Belantara yang dipimpin seorang gergasi, Raja Bantulan Bahap.

Tanpa berpikir panjang lagi, Gemilang pun meminta izin kepada Raja untuk pulang ke Deli. Awalnya Raja agak berat. Namun setelah melihat kekhawatiran yang begitu mendalam di wajah Gemilang, Raja  pun mengizinkan Panglima Perangnya itu pulang ke Deli. 

***

PART 1

PART 3


PUTRI HIJAU

RAJA MUDA DAN PUTRI KUAU