Pendekar Buruk Rupa (Part 1)

dibaca 277 pembaca

Pendekar Buruk Rupa (Part 1)

Diceritakan kembali oleh Teja Purnama

 

Siang mulai menghilang. Mendung pecah di Deli, hujan pun tumpah. Kilat dan petir laksana cambuk cahaya melecut sebuah istana. Walau sekilas, kelebat kilat memperjelas kecemasan di wajah Raja Kelewang Santana. Lama sudah dia  berdiri di lorong istana yang berjendela-jendela besar itu. Hatinya tak henti berdoa. Hanya satu keinginannya saat itu, Permaisuri Indah Kemala Dewi, kuat dan selamat menghadapi persalinan pertamanya.  

Bertahun-tahun sudah Raja Kelewang mengharapkan anak. Sekuat jiwa dia menahan malu saat bertemu dengan raja-raja dari kerajaan lain. Dia hanya bisa tersenyum getir mendengarkan mereka mengeluh atau membanggakan anak-anaknya. Pembicaraan soal anak membuatnya merasa tidak berharga.

Tidak sekali pula terbersit keinginan untuk menyunting perempuan lain.  Namun  cintanya kepada Indah Kemala Dewi teramat besar.  Lagi pula tidak seorang tabib pun mengatakan, dia atau istrinya yang mandul. Segera dia bunuh keinginan itu. Raja Kelewang tetap setia beristrikan Indah Kemala Dewi.

Kesetiaan berbuah indah. Permaisuri mengandung. Harapannya mulai terwujud. Raja Kelewang merasa harga diri kembali naik. Perhatiannya pada Permaisuri pun bertambah, bahkan terkadang berlebihan. Selalu dia mengingatkan Permaisuri agar berhati-hati menjaga kandungannya. Permaisuri tidak boleh lambat makan juga minum ramuan penyehat kandungan racikan tabib istana. Sering pula dayang-dayang jadi pelampiasan kemarahannya, hanya karena Permaisuri lupa waktu istirahat siang hari.

Wajar saja, saat Permaisuri menghadapi persalinan, Raja Kelewang dilanda ketegangan yang sangat.  Erang Permaisuri bagai tusukan tusukan jarum di hatinya. Tadi Raja Kelewang sempat berada di dalam kamar. Namun dia tidak tega melihat istrinya melaui titian hidup atau mati itu. Dia memutuskan keluar, menunggu di lorong-lorong istana bersama hujan, petir, dan kilat yang sesekali menerangi wajah cemasnya.

Akhirnya, yang diharap pun terwujud. Persalinan berakhir. Permaisuri berhasil melewati perjuangan hidup-mati saat melahirkan. Berbagai rasa berbaur jadi satu. Dengan dada berdebar Raja Kelewang masuk ke kamar. Dia cium kening Permaisuri. Senyum letih dan getir pun menghiasi wajah Permaisuri. Melihat itu, Dukun beranak dan para dayang yang menemani Permaisuri melewati persalinan  hanya terdiam menunduk. Setelah itu, Raja Kelewang pun bertanya tentang bayi.

“Ampun, Paduka. Permaisuri telah melahirkan bayi kembar, perempuan dan lelaki,” ucap dukun beranak yang rambutnya telah putih semua itu.

Raja Kelewang tertawa gembira. Dia tidak menyangka bakal mendapat bayi kembar.  “Mana, mana kembarku itu?” tanyanya penasaran.

Dukun beranak itu tidak menjawab. Dua dayang, masing-masing menggendong bayi. Dayang pertama memperlihatkan bayi perempuan jelita, beralis dan berambut tebal dengan mata bercahaya.

“Manisku, bayiku,” ucap Raja Kelewang saat melihat bayi perempuan itu. “Mana saudara lelakinya?” tanya lagi Raja Kelewang tak sabar.

Dayang yang kedua pun mendekat.

Raja Kelewang pucat pasi. Detak jantung seolah terhenti melihat bayi lelaki itu. Rupanya sangat bertolak belakang dengan saudara kembarnya. Sepasang mata bayi itu besar sebelah. Hidungnya teramat pesek, hampir mirip dengan hidup beruk. Tumbuh pula daging berlebih di kening sebelah kirinya.

Raja Kelewang memandangi seluruh orang di dalam kamar. Pikiran dan perasaannya bergaduh. Akhirnya keputusan pun diambil.

“Camkan! Hari ini, Permaisuri Indah Kemala Dewi hanya melahirkan seorang bayi perempuan jelita. Mayang Segar Sari kuberikan dia nama. Dia tidak punya saudara kembar. Siapa pun di antara kalian bermulut panjang, pedangkulah yang akan menebas lehernya!” ancam Raja Kelewang.

Tak ada yang berani membantah. Permaisuri hanya bisa menangis. Kamar itu terasa begitu tegang.  

Ketegangan itu menjalar dinding-dinding istana. Ketegangan yang terus berdenyut bersama laju waktu. Belasan tahun telah berlalu.  Selama itu pula, satu-satu orang di kamar persalinan itu mati mendadak. Hanya tiga tersisa, Raja Kelewang dan  Indah Kumala Dewi, serta anak perempuan mereka, Mayang Segar Sari.

***

PART 2

PART 3


PUTRI HIJAU

RAJA MUDA DAN PUTRI KUAU