Melukut

dibaca 252 pembaca

Melukut

Diceritakan kembali oleh Teja Purnama

Anak itu bersembunyi di balik pohon Beringin. Matanya seakan tidak mau berkedip menyaksikan anak-anak sebayanya belajar di halaman belakang rumah Wak Ulong. Dia buka telinga untuk mendengar setiap perkataan Wak Ulong. Sayang, jarak yang jauh tidak menghalanginya mendengar dengan jelas.

Perasaannya bergemuruh. Ingin benar dia bergabung dengan anak-anak itu. Berguru pada Wak Ulong untuk menguasai berbagai ilmu, termasuk silat. Pernah sekali dia meminta Emak mengantarkannya belajar ke rumah Wak Ulong. Emak hanya bilang belum waktunya. Sabarlah, pasti ada kesempatan yang baik.

Sampai kapan aku bersabar? Sudah dua belas tahun umurnya. Kawan sebayanya sudah tahu banyak. Bisa membaca bintang-bintang, bersilat, atau meramu obat-obat sederhana. Sedangkan dia hanya tahu mengindang-indang beras orang, lalu melukut – ujung beras – itu diambilnya untuk dimasak. Karena itu pekerjaan itu pula orang-orang kampung memanggilnya Melukut, ujung beras!

Petang pun turun. Pelajaran selesai. Anak itu pun keluar dari persembunyiannya. Berlari dia pulang ke rumah. Sudah bulat niatnya mendesak Emak agar mengantarnya belajar pada Wak Ulong.

Tiba di rumah, dia melihat Emak baru saja menjerang air. Seperti biasa, setiap pergi maupun pulang ke rumah, dia mencium tangan Emak.

“Sore sekali kau pulang, Nak?” tanya Emak.

“Iya, Mak. Tadi aku melihat anak-anak belajar di rumah Wak Ulong,” jawabnya.

Emak terdiam sejenak, lalu segera mengalihkan pembicaraan. “Bagaimana hari ini, banyak kau bawa Melukut?”

Dia tahu Emak tidak ingin bicara soal belajar dengan Wak Ulong. “Biasa, Mak...”

“Syukurlah...”

“Mak,” Melukut menguatkan hati untuk berbicara pada Emak.

“Ya?” tanya Emak.

“Ingin sekali aku belajar bersama anak-anak lain di perguruan Wak Ulong itu, Mak. Bawakanlah aku ke sana, Mak. Masukkan aku ke perguruan itu,” pintanya.

“Apa memang sudah tidak bisa kau tahan lagi keinginan belajar sama Wak Ulong? Kau kan tahu, setiap anak yang belajar harus memberinya imbalan. Bagaimana kita bisa memberinya imbalan? Untuk makan kita saja, kau harus mengindang-indang beras orang lain,” kata Emak.

Kali ini dia yang terdiam lama memandang Emak. Kesedihan membayang di wajah Emak. Kesedihan itu juga merambah hati Melukut. Emak satu-satunya orang yang paling dekat dengannya. Tidak ada satu orang pun yang paling dipatuhinya selain Emak. Hitam kata Emak, hitam pula katanya. Putih kata Emak, putih pula katanya.

Melukut tertunduk. Berkecamuk kesedihan dan keinginan di hatinya. Keberaniannya untuk mendesak Emak sirna. Emak akan sedih jika dia terus mendesak. Tetapi, bukankah ini berarti dia harus kembali menahan keinginannya untuk belajar pada Wak Ulong? Hatinya makin kacau. Air mata menggenang di matanya

Melihat Melukut yang mulai hanyut dalam kesedihan, Emak jadi berubah pikiran. Dipeluknya Melukut. Diusap-usapnya rambut Melukut.

“Ya, sudah. Besok Emak antar ke rumah Wak Ulong. Kita berusaha. Soal dia mau atau tidak, serahkan saja pada Tuhan,” putus Emak.

Mendengar keputusan Emak, Melukut pun menangis. Bukan lagi karena sedih, tetapi sebab bahagia. Dia merasa keinginannya yang terpendam bakal tercapai. Melukut kian erat memeluk Emak.

Keesokan harinya, dengan penuh harap, Emak dan Melukut pergi ke rumah Wak Ulong. Dengan hati-hati, Emak menyampaikan keinginan Melukut pada Wak Ulong. Pelan suara Emak mengungkapkan betapa inginnya Melukut belajar bersama anak-anak sebayanya di perguruan itu. Melukut ingin pandai membaca cuaca, membaca bintang-bintang, meramu berbagai obat, juga bersilat.

“Tapi, apalah yang bisa kami berikan sebagai balas budi Wak...” ucap Emak.

“Apa rupa?” tanya Wak Ulong pula.

“Apalah ya Wak.... Untuk makan saja, si Melukut ini yang berusaha. Terkadang dia mengindang-indang beras orang lain. Terkadang menjual kayu bakar... Saya janda. Sakit-sakitan. Dialah tulang punggung saya. Tapi, saya bermohon, terimalah anak saya jadi murid Wak,” kata Emak lagi sambil terus menggenggam tangan Melukut.

“Terimalah aku Wak. Aku janji, jadi murid yang baik,” timpa Melukut.

Wak Ulong bimbang. Sudah jelas Melukut tidak punya apa-apa. Untuk makan saja susah. Bagaimana bisa memberinya hadiah? Tetapi apa pula kata orang kalau dia menolak Melukut?

“Baiklah,” ucap Wak Ulong setelah menemukan jawaban dari kebimbangannya. “Datang sajalah dulu nanti sore. Kita lihat apakah kau bisa menjadi murid yang baik,” lanjutnya.

Emak dan Melukut gembira bukan kepalang.

“Salam, salam! Cium tangan gurumu,” perintah Emak pada Melukut.

Segera Melukut mencium tangan Wak Ulong dengan penuh keiklasan dan kepatuhan seorang murid.

“Ya, sudah. Aku mau istirahat. Pulanglah kalian. Dan kau Melukut, datang lagi sore ini,” perintah Wak Ulong.

Sepanjang perjalanan pulang Melukut tak henti meluapkan kegembiraan. Berulang-ulang pula dia berjanji membahagiakan Emaknya jika sudah pintar nanti. Emak hanya tersenyum mendengar semua perkataan Melukut. Emak hanya berharap Melukut belajar sungguh-sungguh dan taat pada guru.

Belum lagi sore, Melukut sudah tiba di rumah Wak Ulong. Belum pula ada seorang pun anak lain di sana. Hanya ada Wak Ulong di halaman belakang rumah sambil mengisap rokok daun bakau.

“Eh, sudah datang kau,” sapa Wak Ulong,

“Iya Wak,” jawab Melukut seraya mencium tangan Wak Ulong.

Wak Ulong memandang Melukut. Ada senyum aneh di wajahnya.

“Apa yang kau bawa?” tanya Wak Ulong

Melukut bingung. Dia tidak membawa apa-apa.

“Jadi kau menulis di mana? Pakai apa?”

“Aku tak bawa apa-apa Wak,”

“Bagaimana kau mau belajar. Tapi.... baiklah.  Sekarang kau mau belajar apa?”

Melukut tak bisa menjawab. Wak Ulong tertawa kecil. “Karena kau tidak bawa apa-apa, Wak berikan kau satu mantera. Kau harus bisa menghafalnya. Siap?” ujar Wak Ullong

“Siap Wak!” jawab Melukut.

“Dengar baik-baik.  Ikuti. Indang-indang melukut. Rumah dililit akar bulu,” lisan Wak Ulong.

Indang-indang melukut. Rumah dililit akar bulu,” ucap Melukut mengulanginya.

Yang mati boleh hidup. Berkat doa pengajar guru,” sambung Wak Ulong

Yang mati boleh hidup. Berkat doa pengajar guru,” ulang Melukut.

Indang-indang melukut. Rumah dililit akar bulu. Yang mati boleh hidup. Berkat doa pengajar guru. Bisa?” tekan Wak Ulong lagi.

“Bisa Wak,” jawab Melukut lalu merapal mantera itu dengan terbata-bata.

“Belum lancar,” nilai Wak Ulong. “Terus kau hafal mantera itu. Mulai besok selama tiga puluh hari, setiap pagi kau baca mantera itu 70 kali, sore 70, dan malam 70 kali. Bisa?” tanya Wak Ulong.

“Bisa, Wak,” ucap Melukut

“Ya, sudah kau bisa pulang sekarang,” kata Wak Ulong

“Pulang?” tanya Melukut heran.

“Ya, sekarang. Anak-anak lain sudah datang. Mereka juga ingin belajar,” jawab Wak Ulong seraya menunjukkan anak-anak sebaya Melukut yang telah berdatangan di halaman belakang rumah itu.

“Besok aku bawa alat tulis Wak?” tanyanya lagi.

“Tidak perlu datang. Kau hafal saja mantera itu. Nanti ilmu-ilmu lain datang sendiri,” sebut Wak Ulong sambil menahan geli di hati. Soalnya, sembarangan saja dia membuat mantera itu. Biar seribu kali sehari dibaca, tetap tak ada gunanya.

“Begitu ya Wak?”

“Ya. Begitu. Sekarang cepatlah kau pulang. Sore ini juga baca 70 rapalan itu di rumahmu!”

“Iya, Wak. Iya,”

Keheranan mengiringi Melukut pulang ke rumah. Hatinya penuh tanya. Apa maksud Wak Ulong? Kenapa aku tidak boleh datang lagi besok? Apa benar mantera itu bisa mendatangkan ilmu-ilmu lain?

Sampai di rumah, Emak juga menyambut Melukut dengan heran. “Kenapa cepat? Apa yang kau pelajari di sana?”

Melukut menjawab dengan lesu.“Cuma disuruh menghafal mantera.”

“Sudah disuruh menghafal?” desak Emak.

“Gampang Emak, sudah kuhafal pun kau di sana tadi. Tapi tak diajarkan Wak Ulong aku ilmu yang lain. Dan katanya, besok aku tidak perlu datang lagi. Wak Ulong bilang, kalau aku membaca hafalan itu selama tiga puluh hari, 70 kali setiap pagi, sore, dan malam, maka ilmu-ilmu lain datang sendiri,” terang Melukut dengan hati yang kacau.

Emak terdiam. Dia merasa ada yang tidak beres. Tanpa perlu berpikir panjang, Emak paham, bahwa Wak Ulong  memang tidak mau mengajar Melukut. Dan itu karena mereka tidak bisa memberikan imbalan.

“Ya, sudahlah. Ikuti saja apa kata Wak Ulong,” ujar Emak.

“Jadi besok aku tidak perlu datang lagi?” tanya Melukut.

“Tidak usah,”

“Hafalan itu?”

“Hafal dan amalkan saja. Semoga memang bermanfaat bagimu,”

Hampir saja Emak tidak bisa menahan tangis. Perempuan itu merasa terhina. Tapi tidak ingin Melukut tahu perasaannya. Dalam hati dia berdoa agar Tuhan senantiasa memberikan keberuntungan pada Melukut.

Melukut ikut perkataan Emak. Dia tidak lagi datang ke rumah Wak Ulong, namun tetap mengamalkan ajaran “singkat” yang diberikan Wak Ulong. Indang-indang melukut. Rumah dililit akar bulu. Yang mati boleh hidup. Berkat doa pengajar guru.

Hari berganti hari, purnama berganti purnama. Emak sakit parah dan tidak tertolong lagi. Melukut hanya bisa pasrah. Sehari setelah menguburkan Emak, Melukut pergi meninggalkan kampung tersebut. Dia  ingin mengubah nasib sekaligus mengobati rasa sedih  karena kehilangan orang yang sangat dicintainya.

Sebetulnya Melukut tidak tahu mau ke mana. Dia hanya mengikuti langkah kakinya. Melewati kampung demi kampung. Menumpang tidur sambil membantu pekerjaan yang punya rumah. Demikianlah hari demi hari dilaluinya. Semakin banyak yang dilihatnya, semakin banyak pula yang dikenalnya. Semakin banyak pengalaman didapat, semakin banyak pula hikmah diperoleh.

Pada suatu siang, Melukut baru saja tiba di sebuah kampung. Dia beristirahat di tepi sebuah sungai jernih. Tiba-tiba, entah dari mana, seekor burung jatuh ke air. Burung hampir  terbawa arus jika Melukut tidak cepat meraihnya.

Tubuh burung itu diam kaku. Kakinya menegang. Tapi masih terasa ada gerak nafas di kerongkongan burung tersebut. Melukut mengelus-elus leher burung tersebut. Tak sadar pula bibirnya merapal ajaran Wak Ulong.

Indang-indang melukut. Rumah dililit akar bulu. Yang mati boleh hidup. Berkat doa pengajar guru.

Ajaib! Burung tersebut menggeliat seperti siuman dari pingsan yang panjang. Kaki binatang itu bergerak. Sayapnya mengepak-ngepak. Segera Melukut melepasnya. Burung tersebut pun terbang, lalu menghilang di balik awan.

Melukut terkejut dengan kemampuannya. Ternyata rapalan yang diberikan Wak Ulong ampuh. Dia jadi teringat Emak yang menyarankan agar mengamalkan hafalan itu.

Pengalaman menyembuhkan burung tersebut menumbuhkan rasa percaya diri. Melukut melangkah memasuki kampung tersebut. Kebetulan sedang ada gelaran pekan. Melukut menawarkan diri membantu seorang kakek penjual kayu bakar. Kakek tersebut menerimanya dengan senang hati.

Melukut pun bekerja dengan giat. Dia minta Kakek hanya duduk. Tidak perlu melayani pembeli. Awalnya Kakek menolak, namun melihat kejujuran dan kesigapan Melukut dalam bekerja, orang tua itu akhirnya menuruti permintaan Melukut.

Usai pekan, Kakek pun mengajak Melukut ke rumahnya.

“Kalau kau mau, tinggallah bersamaku. Aku hidup sendirian,” ajak Kakek.

“Benar Kakek mau memberikan aku tumpangan?” tanya Melukut.

“Tidak, aku tidak mau memberimu tumpangan. Aku ingin kau tinggal denganku sebagai cucuku. Bukan menumpang,” jawab Kakek.

Keharuan menyeruak di hati Melukut. Dalam hati dia berjanji, tidak akan melupakan kebaikan orang tua ini.

Tinggallah Melukut dengan Kakek. Sehari-hari Melukut pergi mencari kayu bakar ke hutan. Melukut juga berburu ikan di sungai. Dia sudah pintar menancapkan tempuling ke tubuh ikan yang melintas di sungai.

Demikianlah waktu pun berlalu, hingga sampai padanya sebuah kabar tentang putri Raja yang sakit parah. Kabar itu didapat saat menggelar dagangan di pekan.

“Putri Raja sakit. Raja telah memanggil berbagai dukun, tabib, tapi Putri tak kunjung sembuh. Raja telah mengumumkan, siapa pun yang bisa menyembuhkan putri semata wayangnya akan mendapat imbalan yang besar. Jika dia lelaki muda, akan dikawinkan dengan putri. Jika perempuan perempuan dijadikan anak angkat Raja,” kata seorang pedagang ayam kampung.

Melukut tertarik. Sesampai di rumah, dia meminta doa restu Kakek untuk berusaha mengobati putri Raja. Kakek mengizinkannya, walau belum pernah melihat Melukut mengobati orang sakit.

“Kalau kau yakin, lakukankan. Keyakinan itu adalah kekuatan awal yang paling nyata,” kata Kakek.

Setelah mendapat restu Kakek, berangkatlah Melukut. Dia berjalan cepat agar menjelang siang sudah sampai di istana. Perkiraan tepat. Tengah hari, dia telah berada di depan gerbang istana.

“Maaf, Abang. Bolehkah saya menemui Raja?” tanya Melukut pada salah seorang pengawal yang sedang berjaga di gerbang istana.

Pengawal itu memandang sekujur tubuh Melukut. “Berani benar kau. Sudah berjanjikah?” Pengawal itu balas bertanya.

“Belum, Bang,” jawab Melukut. “Aku ingin membantu Raja menyembuhkan putrinya,”

“Kau? Yakin kau bisa?” Pengawal itu belum mempercayainya.

Melukut menjawab dengan penuh percaya diri, “Dengan izin Tuhan dan keyakinan dalam diriku.”

Melihat keyakinan Melukut, pengawal tersebut pun menjumpai teman-temannya. Mereka berunding sejenak. Akhirnya diputuskan memberi izin kepada Melukut untuk bertemu Raja. Salah seorang pengawal pun mengantar Melukut menemui Raja.

Bergetar hati Melukut saat bertemu Raja.  Kharisma Raja begitu kuat. Dia lebih banyak tertunduk, segan menatap langsung ke wajah Raja.

“Sampaikanlah niatmu, anak muda,” perintah Raja.

Dengan penuh penghormatan Melukut menyampaikan maksudnya. “Ampun Tuanku. Patik datang ingin mengabdi sesuai dengan anugerah yang diberikan Tuhan. Anugerah itu haruslah digunakan untuk menolong sesama...”

“Langsung saja, jangan berbelit-belit,” potong Raja.

Melukut menarik nafas panjang. Dia berusaha tenang. “Ampunkan Patik, Tuanku. Patik lancang ingin mencoba menyembuhkan Tuan Putri yang katanya sampai kini masih terbaring sakit.”

“Kau bisa mengobati?”

“Ampun, Tuanku. Kita hanya bisa berusaha, Tuhanlah yang menentukan,”

Tidak ada salahnya dicoba, pikir Raja. Dipanggilnya Permaisuri.

“Anak muda ini ingin mengobati anak kita. Bagaimana menurutmu?” tanya Raja pada Permaisuri.

“Jangan pernah putus upaya. Dan pemuda ini juga sebuah upaya. Tidak ada salahnya, Tuanku,” kata Permaisuri.

“Baiklah kita izinkan dia mengobati putri kita,” kata Raja. Lalu Raja pun bertanya kepada Melukut.”Apa saja yang kau butuhkan dalam pengobatan ini?”

Melukut menjawab,”Ampun, Paduka. Patik hanya butuh air putih dalam mangkuk, dua butir telur, beras, dan kemenyan.”

Raja pun memerintahkan dayang-dayang untuk memenuhi kebutuhan Melukut. Setelah lengkap, Raja dan Permaisuri pun membawa Melukut ke kamar putri kerajaan.

Dengan dada berdebar, Melukut mengikuti Raja dan Permaisuri memasuki sebuah kamar besar dan mewah. Kamar itu beraroma wangi, membuat setiap orang merasa nyaman di dalamnya. Di tengah kamar itu, putri yang cantik bak bidadari terlentang di ranjangnya. Matanya terpejam, bibirnya pucat.

Di sudut kamar itu, Melukut pun mulai bekerja. Dia membakar kemenyan lalu memasukkan beras dan pecahan telur ke mangkuk berisi air. Diaduknya pelan-pelan sambil membaca amalan dari Wak Ulong. Indang-indang melukut. Rumah dililit akar bulu. Yang mati boleh hidup. Berkat doa pengajar guru.

Selesai meramu bahan-bahan tersebut, dia pun menyerahkannya kepada Permaisuri. “Ampun Permaisuri. Sapukan ramuan ini ke sekujur tubuh Tuan Putri sambil terus berdoa kepada Tuhan. Kita hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan,” ucapnya seraya meminta izin keluar dari kamar tersebut.

Setelah Melukut, Raja pun ikut keluar. Sampai di luar, jantung Melukut kembali berdetak kencang. Tidak bisa juga dia sembunyikan ketegangan di wajahnya. Melukut berharap, keajaiban kembali terjadi. Dia berharap Tuhan menolong Putri. Baginya, kesembuhan Tuan Putri adalah tujuan utama. Tidak mendapat hadiah tidak mengapa, asalkan Tuan Putri bisa sembuh.

Di kamar, dengan penuh kasih sayang dan tetap berdoa, Permaisuri menyapu ramuan itu ke seluruh tubuh anaknya. Pada setiap sapuan, Permaisuri tidak lupa berdoa. Betapa sungguh-sungguh Permaisuri berdoa untuk anak semata wayangnya itu. Sampai-sampai air mata mengalir di pipinya, menetes jatuh menyentuh wajah putrinya. Saat itu, mata Putri mengerjap-kerjap pelan. Permaisuri tidak melihat itu, terus menyapu ramuan itu ke sekujur tubuh Putri sambil terus berdoa. Saat sapuan itu sampai ke lengan, jemari Putri bergerak. Permaisuri terkejut. Sekian lama sudah Putri kaku dalam diamnya. Tidak sedikit pun anggota tubuhnya bergerak. Kini, di depannya, jari Putri bergerak-gerak.

“Bunda,” sendat Putri.

Permaisuri ingat suara itu. Anakku sadar, anakku sadar. Hatinya bersorak bahagia. Dipeluknya Putri. Tidak peduli ramuan beras dan telur yang melekat di tubuh Putri mengotori baju.

“Bunda, bau ini sungguh tak enak,” ucap Putri lirih.

“Mari, mari Bunda mandikan engkau,”  kata Permaisuri sambil memerintah dayang-dayang menyediakan bahan mandi Putri dan memberi tahu Raja tentang kesembuhan Putri.

Kebahagiaan menyegarkan hati Raja. Lama sudah dia mencari tabib bertangan dingin. Dan ternyata tanpa dicari Tuhan telah mengirimkan seorang pemuda menyembuhkan putrinya.

Dia pun memanggil Melukut menyampaikan keinginan.

“Aku telah berjanji akan menikahkan putriku dengan lelaki yang bisa menyembuhkannya. Dan ternyata kaulah lelaki itu,”

“Ampun Tuan. Patik iklas menyembuuhkan Putri. Bukan maksud Patik mempersunting Putri. Patik tak ingin tak tahu diri,” ungkap Melukut dengan hati-hati.

Raja tersenyum. Dia melihat kebaikan pada diri Melukut. Tekadnya menikahkan Putri dengan Melukut pun bertambah kuat.

“Tidak sekarang pun tak apa. Kamu tinggallah di sini. Banyak rumah tamu di istana ini. Tugasmu adalah menjadi tabib kerajaan. Aku yakin, kau akan berjodoh dengan Putri,” sebut Raja.

“Ampun Tuanku. Bukannya Patik menolak. Tapi ada Kakek Patik hidup sendirian di kampung,” ujar Melukut.

“Bawa pengawal. Jemputlah kakekmu. Pergilah sekarang. Jangan membantah lagi. Aku ingin bertemu dengan Permaisuri dan anakku,” tegas Raja seraya pergi menuju kamar Putri.

Melukut terdiam. Kebahagiaan dan keharuaan memenuhi hatinya. Tergambar pula di benaknya sebuah masa depan gemilang.


PENDEKAR BURUK RUPA

PUTRI HIJAU

RAJA MUDA DAN PUTRI KUAU