Lomba Bohong

dibaca 157 pembaca

Lomba Bohong

Lomba Bohong

Diceritakan kembali oleh Teja Purnama

 

Raja gelisah. Berulang-kali dia duduk lalu bangkit  dan berjalan mondar-mandir di hadapan para menteri yang setia mendampinginya. Dia seperti orang bingung. Tidak tahu mau berbuat apa.

 “Apakah tidak ada lagi yang menarik dalam kehidupan ini?” Tiba-tiba Raja bertanya. “Tidak bisakah kalian melenyapkan kebosanan yang melanda diriku saat ini?” tanyanya lagi.

Para menteri masih diam. Masih mencari jawaban yang tepat.

“Kalian ini tak punya mulut atau pikiran? Kenapa terdiam? Apakah pertanyaanku begitu sulit?” tanya Raja dengan nada agak tinggi.

Para menteri berpandangan. Salah seorang di antara menteri berkepala gundul memberanikan diri berbicara.

“Ampun, Baginda. Izinkan Patik berbicara,” ucap menteri berkepala gundul itu.

“Dari tadi aku sudah menyuruh kalian berbicara,” jawab Raja.

“Ampun, Baginda. Apalah yang membuat hidup Baginda membosankan? Baginda hanya tinggal perintah saja. Ingin hiburan? Kita punya banyak penari dan penyanyi yang pandai menghibur. Ingin berburu? Kerajaan kita mempunyai hutan dengan berbagai hewan buruan yang menantang. Dengan kekayaan yang begitu banyak, Baginda juga bisa membeli apapun yang Baginda mau,” ungkap menteri itu.

“Aku bosan menyaksikan tarian atau lagu yang dinyanyikan para penyanyi. Aku muak berburu di hutan. Aku ingin sesuatu yang baru,” sebut Raja.

Para menteri kembali terdiam.

“Ayo berpikir. Pikirkan apa bisa kalian buat agar ada bisa membuatku tidak merasa bosan. Sesuatu yang tidak biasa, sesuatu yang belum pernah dibuat orang lain,” desak Raja.

Para menteri belum juga mendapat jawaban. Tak ada suara. Betapa heningnya, sehingga tarikan nafas gelisah para menteri pun terdengar. Tiba-tiba menteri berkepala gundul kembali angkat bicara.

“Ampun, Baginda. Patik punya usul. Kita buat perlombaan. Perlombaan yang belum pernah dibuat orang lain,” kata menteri itu.

“Lomba?” tanya Raja.

“Lomba bohong,” jawab menteri itu.

Jawaban ini membuat menteri-menteri lain tertawa mengejek. Beda pula dengan Raja. Bagi Raja ide ini cukup menarik. Karena itu Raja tidak suka melihat para menteri tertawa.

 “Diam!” bentak Raja.

Sekejap suara tawa hilang.

Raja mendekati menteri berkepala gundul.

“Artinya, pemenangnya adalah yang pandai berbohong?” tanya Raja kepada menteri berkepala gundul itu.

“Ampun, Baginda. Benar. Pememangnya adalah yang  pandai berbohong,” jawabnya.

“Siapa pula yang menentukan peserta itu berbohong atau tidak?”

“Ampun, Baginda jika Patik saya lancang menunjuk. Bagindalah yang menentukan, peserta itu berbohong atau tidak. Jika Baginda tetap dia berbohong, makalah dialah pemenangnya,” terang menteri itu.

Raja tertawa. Dia tertarik dengan lomba bohong ini. Segera dia memerintahkan menteri untuk mengumumkan perlombaan itu. “Umumkan, umumkan segera. Kabarkan seluas-luasnya hadiah besar bagi pemenang. Sekarung emas,”

Dalam waktu singkat pengumuman itu pun tersebar luas. Lomba itu pun menjadi pembicaraan hangat. Di pasar maupun di warung-warung selalu menjadi  bahan obrolan yang terkadang mengundang perdebatan.

“Lomba apa itu? Apa tidak ada lomba lain? Lomba memanjat pohon kepala, lomba berburu, lomba berperahu. Kenapa pula musti lomba berbohong? Aneh-aneh saja!”

 “Memang aneh Raja kita ini. Entah siapalah yang berani ikut lomba itu.”

“Apakah ada orang yang berani berbohong kepada Raja? Jangan-jangan ini jebakan.”

“Tidaklah mungkin jebakan. Ini lomba. Memang Raja kita saja yang aneh.”

“Sudah kubilang tadi, banyak lomba yang bisa dibuat. Bukannya lomba berbohong.”

“Lomba ini juga bermanfaat,”

“Bermanfaat apa?”

“Lomba ini jadi kesempatan para pembohong untuk berbohong sesukanya dan dapat hadiah.  Jadi kalau kalian mau memuaskan nafsu berbohong ya ikut lomba ini. Jangan berbohong dalam kehidupan sehari-hari...”

Makin lama, lomba ini kian menggema dan membuat penduduk penasaran.

Tiba pada hari lomba digelar. Raja dan para menteri menanti peserta di balairung. Raja tampak tidak sabar menyaksikan para peserta lomba bohong beraksi. Sayangnya, dari pagi hingga menjelang siang, belum ada satu pun warga yang menjadi peserta.

“Apakah hadiah yang kita tawarkan kurang besar?” tanya Raja kepada para menteri.

Seorang menteri memberanikan diri menjawab. “Ampun, Baginda. Mungkin bukan karena kurang besar hadiahnya, namun warga takut berbohong pada Baginda,” ucapnya.

“Tidak ada yang perlu ditakutkan. Aku hanya akan menetapkan peserta berkata bohong atau tidak. Itu bukan berarti mereka berbohong kepadaku. Lagi pula apa kalian pikir aku  begitu gampang dibohongi?” kata Raja.

Menteri yang kembali bicara. Dia mengusulkan agar Raja menambahkan hadiah. Bukan berbentuk barang, namun jabatan.

“Baiklah. Aku akan tambah hadiahnya. Selain sekarung emas dan berlian, pemenang lomba ini akan menjadi salah seorang penasinatku. Cepat kalian umumkan,” perintah Raja seraya bangkit dari singgasananya dan meninggalkan balairung.

Lomba ini pun kian menggemparkan. Bayangkan saja, Raja akan mengangkat orang yang paling pintar bohong menjadi penasihatnya.

“Raja kita memang lain dari lain,” nilai seorang warga.

“Gila! Pemenang lomba bohong akan jadi penasihat Raja? Bagaimana pula seorang pembohong jadi penasihat?” tanya warga yang lain.

“Boleh saja. Penasihat yang pintar berbohong tentu bisa menangkap kebohongan orang lain. Penasihat itu bisa mencegah Raja kita jadi korban kebohongan,” jawab warga yang lain lagi.

Berbagai komentar penduduk tidak mengurungkan niat Raja menggelar lomba itu. Bahkan Raja kian semangat. Apalagi sejak penambahan hadiah, banyak warga yang mendaftar menjadi peserta lomba bohong itu.

Sepekan kemudian, lomba kembali digelar. Para peserta sudah menunggu giliran untuk beraksi di hadapan Raja dan para menteri di dalam balairung.

“Mari kita mulai,” perintah Raja.

Peserta pertama masuk. Seorang yang tidak lagi muda, namun tidak begitu tua. Penampilannya bagai orang kaya.

“Ampun, Baginda. Izinkan hamba ikut berlomba,” ucapnya seraya memberi hormat.

“Kau bisa berbohong?” tanya Raja.

“Bisa, Baginda. Kalau tidak manalah hamba ikuti lomba ini?” jawab peserta itu.

“Kau biasa berbohong?” tanya Raja lagi.

“Se... se... kali, Baginda.,,” jawab peserta itu tergagap-gagap.

Raja tertawa. Kegembiraan hadir di hati.  

“Baiklah. Kau bisa berbohong, tapi tak biasa berbohong. Sekarang, tunjukkan kebisaanmu itu,” perintah Raja.

Peserta itu pun menarik nafas panjang lalu mulai beraksi.“Ampun, Baginda. Begitu banyak rintangan yang hamba lalui untuk sampai ke istana. Hamba tembus hutan belantara demi menghormati hajatan Baginda. Dan tahukah Baginda di tengah perjalanan tadi saya dicegat oleh semut sebesar gajah?”

“Tidak tahu,” jawab Raja tanpa ekspresi.

“Ya, hamba dicegat oleh semut sebesar gajah. Sebesar gajah!”

“Aku sudah dengar. Sebesar gajah, semut sebesar gajah. Terus?”

“Baginda percaya ada semut sebesar gajah?”

Raja tersenyum. Pancingan ini terlalu gampang ditebak. “Aku percaya. Bisa saja semut itu semut jadi-jadian....”

Tahu pancingannya gagal, peserta pertama ini pun melanjutkan aksinya. “Semut raksasa itu mencegat hamba. Dan dia bisa bicara sebagaimana kita bicara Baginda. Dia ingin memakan satu lengan hamba. Tentu saja hamba tidak rela. Kami berkelahi, Baginda. Tenaga sangatlah kuat. Dia melempar hamba. Tubuh hamba menghantam pohon. Tumbang pohon tersebut. Hamba yang semula hanya ingin bertahan akhirnya habis kesabaran. Hamba tangkap kakinya, hamba putar-putar badannya, lalu hamba lemparkan sejauh mungkin.”

Lagi-lagi Raja tersenyum. Dia dapat menahan diri untuk tidak memaki peserta itu sebagai pembohong. “Sungguh hebat kau bisa mengalahkan semut raksasa itu. Aku benar-benar kagum padamu,” kata Raja.

“Baginda percaya?” tanya peserta itu.

“Percaya. Kau bercerita dengan baik,” kata Raja geli.

“Baginda memang betul-betul percaya? Kalau pun memang ada semut sebesar gajah, manalah mungkin hamba yang kurus ini dapat memutar-mutar badannya lalu melemparkannya...” ujar peserta.

“Semua mungkin. Bisa saja kau sakti. Badanmu kurus, tapi ilmumu tinggi. Aku percaya kau dan sekarang kau boleh keluar dari sini sebelum aku bosan,” perintah Raja.

Tidak lama kemudian peserta kedua pun masuk. Tua dan langkahnya sangatlah lambat.

“Dari mana asalmu?” tanya Raja.

“Ampun, Baginda. Hamba dari berasal dari kampung di dekat perbatasan wilayah kerajaan kita,”

“Sungguh jauh kau berjalan ke sini. Baiklah, tak usah lama-lama lagi. Mulai kau berlomba,” perintah Raja.

Orang tua itu pun kembali memberi hormat lalu berkata, “Ampun, Baginda... Hamba datang ke hadapan Baginda ini sesungguhnya bukanlah untuk ikut berlomba. Kedatangan hamba ini merupakan perwujudan rasa hormat kepada Baginda. Jadi, kalau pun hamba ikut berlomba bukan karena..... hadiah sekarung emas dan lahan di dekat istana. Kalau pun nanti menang, hamba tidak akan mengambil hadiah itu. Hamba hanya ingin menghargai dan menghormati pengumuman lomba bohong yang Baginda sebarkan,”

Raja tersenyum. Lumayan pandai orang ini. Tetapi Raja tidak terpancing. Dia tidak membantah dan mengatakan bahwa peserta itu telah berbohong. Raja malah menunjukkkan rasa percayanya. “Aku percaya kau memang menghormati aku. Kau ikut lomba ini karena ini menghormati aku. Tidaklah mungkin kau tidak menghormati Rajamu. Lanjutkan....” 

Orang tua itu belum putus asa. Dia kembali lagi beraksi. Diceritakannya tentang masa mudanya yang penuh dengan petualangan. Tentang bagaimana dia memiliki naga sakti.

“Naga itu banyak menyelamatkan hamba, Baginda. Naga itu pula yang membawa hamba ke berbagai tempat di muka bumi ini. Sayang sekarang naga sakti itu telah mati. Jasadnya ada di dasar lautan,” tutur orang tua itu.

Raja mengangguk-angguk. Seolah larut dalam cerita orang tua itu, Raja bertanya, “Kau sering rindu pada naga itu?”

Orang tua itu kaget. Dia tidak menyangka Raja percaya pada ceritanya. “Ampun, Baginda. Apakah Baginda percaya pada cerita hamba?”

“Aku percaya ada naga sakti di muka bumi ini. Mungkin saja naga itu adalah binatang zaman dulu yang selamat waktu banjir besar melanda bumi. Lalu naga itu menjadi sakti karena harus bertahan hidup dalam sebuah kawah gunung berapi. Naga itu sayang padamu karena dia kau orang baik dan..... jujur,” kata Raja dengan nada mengejek.

Orang tua itu tidak tahu lagi mau bicara apa. Tanpa diperintah dia pun meminta izin untuk keluar dari balairung itu. Dengan senyum kemenangan Raja mengizinkan orang tua itu pergi.

Setelah orang tua itu keluar, masuklah peserta ketiga. Nasib peserta ketiga ini juga sama dengan peserta pertama dan kedua. Kegagalan peserta tiga ini juga menulari peserta-peserta berikutnya. Raja begitu kuat menahan diri untuk tidak menyatakan semua cerita peserta lomba bohong itu sebagai kebohongan. Semustahil apa pun cerita peserta, Raja tetap menganggapnya benar.

Menjelang sore, dua belas peserta telah beraksi. Hanya tinggal satu peserta yang belum beraksi. Semula Raja ingin menunda lomba sampai esok hari. Dia mulai merasa letih. Tetapi mendengar laporan pengawal bahwa hanya tinggal satu peserta lagi, Raja pun melanjutkan perlombaan.

“Baiklah. Ini yang terakhir. Suruh dia masuk,” ucap Raja pada pengawal.

Pengawal itu pun segera pergi dan kembali membawa seorang pemuda berwajah lugu. Pemuda itu mengenakan baju dan celana yang luruh. Kakinya menghitam karena debu.

“Kau juga ingin menguji keberuntunganmu?” tanya Raja.

“Ampun, Baginda. Apa pun penilaian Baginda, itulah yang benar,” jawab pemuda itu.

Ketertarikan nampak jelas di wajah Raja. “Baiklah, kita mulai lomba ini. Apa yang ingin kau sampaikan?”

“Ampun, Baginda. Izinkan hamba berbicara apa adanya, sesuai dengan daya hamba, sesuai dengan amanah yang disampaikan ayah hamba,”

“Ayahmu?”

“Ya, Baginda. Ayah saya,”

“Apa amanahnya yang harus kau sampaikan kepadaku?”

“Ampun, Baginda. Maaf sebelumnya jika hamba lancang. Ayah hamba dan ayah Baginda  berkawan baik. Ayah hamba sering diundang kemari oleh ayah Baginda jika ada persoalan. Ayah hamba selalu membantu kerajaan ini. Bahkan waktu perang besar dulu, ayah hamba memberikan hutang dua karung emas kepada ayah Baginda. Sampai sekarang hutang tersebut belum dibayar. Ayah hamba berpesan agar hamba menagih hutang tersebut,” ujar pemuda lugu itu.

Berdebar jantung Raja mencerita cerita anak muda itu. Raja tidak tahu mau bicara apa.

“Ada lagi pesan ayah hamba,” lanjut pemuda berwajah lugu itu.

“Apa itu?” tanya Raja penasaran.

“Ayah hamba pernah menjalin janji dengan ayah Baginda. Janji itu adalah menikahkan hamba dengan anak Baginda, Putri Bintang Cemerlang...” jawab pemuda itu.

Tak sadar Raja bangkit dari singgasana. “Kau kawin dengan anak perempuanku?” kata Raja dengan nada tinggi. Berbagai perasaan mengaduk-aduk jiwanya. Dia tidak bisa tenang seperti menghadapi peserta-peserta sebelumnya.

Pemuda berwajah lugu itu tidak gentar sedikit pun. “Itulah amanah ayah hamba. Menagih hutang dua karung emas kepada kerajaan ini dan menikah dengan anak Baginda. Amanah ini harus hamba jalankan. Dan kata ayah hamba, Baginda pasti akan membayar hutang dan menikahkan hamba dengan Putri Bintang Cemerlang. Menurut ayah hamba, keluarga Baginda adalah orang-orang terhormat yang selalu menepati janji....”

Raja kian tersudut. Serba salah. Kalau membenarkan cerita pemuda berwajah lugu itu itu sama saja dia harus “membayar hutang” dua karung emas dan menikahkan anaknya dengan pemuda itu. Kalau dia menyatakan cerita itu bohong, berarti pemuda berwajah lugu itu menang.

Raja sadar, tidak  ada pilihan lagi. “Aku tidak percaya ceritamu. Kau berbohong.”

 “Baginda menilai hamba berbohong?” tanya pemuda itu lagi.

“Ya. Kau berbohong. Tidak mungkin kami berhutang dua karung emas kepadamu. Aku juga tidak kenal siapa ayahmu, siapa kau! Tidak mungkin pula ayahku menjodohkan anakku dengan kau. Kau pembohong!”

 “Artinya, hamba telah berbohong?” tanya pemuda itu.  Senyum kemenangan mengembang di wajahnya.

“Sudah, sudah. Jangan berbicara lagi kau. Ceritamu bohong. Kaulah pemenang lonba bohong ini,” putus Raja. 

***