BELAJAR DARI ALAM

dibaca 176 pembaca

Orang hidup selalu akan berupaya untuk mengubah hidup menjadi lebih baik. Sebenarnya, alam sudah menginspirasi jika kita ingin belajar dari hidup ini. Alam diciptakan Allah SWT untuk diberikan kepada Umat manusia supaya dibagi Secara Adil. Namun, Apakah alam ini sudah dikelola secara adil. Banyak kekayaan alam yang sudah diberikan sesuai dengan potensinya dan sesuai dengan kebutuhan daerah, namun kenapa masih banyak daerah yang masih bingung mengelola yang sudah diberikan Allah SWT. Kita lihat Hutan sebagai bentangan Alam merupakan suatu paru-paru dunia, menjaga keseimbangan alam. Namun, terjadi hal-hal yang merusak ekosistem hutan itu seperti banjir, longsor, Kenapa kita tidak belajar dari alam ?. Kita melihat banjir di setiap pemberitaan. Sadarkah kita, apakah banjir ini sesuatu phenomena yang biasa, atau suatu pembelajaran. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari banjir. Banjir mengajarkan kita untuk membuat kita waspada untuk menjaga hutan, menjaga saluran air, juga sebagai access paru-paru bumi untuk mengexplorasi oksigen yang kita butuh.

 

Kita pernah mendengar Reboisasi alias menghijaukan hutan kembali. Banyak program penanaman pohon. Inilah jawaban dari Alam untuk kita, untuk solusi yang ada, namun pohon itu akan tumbuh besar perlu waktu yang sangat lama. Kita kembali belajar dari Alam. Segera suarakan..., Stop semua penebangan liar, jagalah hutan kita, sehingga kita mengerti suara alam dan mengerti ilmu yang diberikan alam melalui makna tersirat. Jika alam kita bagus, penuh dengan hijau, Kesehatan akan menjadi terjaga. Bukankah ini pembelajaran bagi kita, menjaga alam kita tetap hijau juga membuat kita sehat, pernahkah terbesik oleh kita.

 

Tertuang di Pasal 33 Ayat 3, “Bumi, Air dan Kekayaan Alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Semua sudah ada aturan yang dibuat untuk kita selalu belajar dari aturan. Namun, sudahkah aturan ini kita jalan dengan baik. Sudah kita mengelola kekayaan alam ini sesuai dengan keadilan. Adilkah kita bertindak untuk menggunakan alam untuk kesejahteraan alam. Alam mengejarkan Gempa ketika dia menunjukan pergeserannya, sehingga kita diajarkan waspada, tanggap dengan siatuasi yang tak terduga. Siapkah kita dengan situasi Gempa. Jika kita siap, kita tidak perlu panik dan perlu siap sedia agar dimanapun gempa, kita bijak menghadapi dan selalu punya cara tidak dihadapi dengan tangisan ataupun kepanikan. Karena Semua sudah ada aturan dan alam membuat kita belajar bijaksana.

 

Dr. Said Sa’ad Marthon (2007 : Hal : 67) dalam bukunya Ekonomi Islam Di tengah krisis ekonomi global memaparkan bahwa Untuk mewujudkan keadilan sosial dalam pertumbuhan ekonomi, umat islam disyariatkan untuk memanfaatkan bumi seoptimal mungkin. Pertanyaan, apakah sudah dikelola dengan optimal. Konsep inilah yang perlu kita kaji ulang, jika sudah optimal, segala masalah dan bencana yang terjadi di muka bumi dapat kita atasi dan kita tidak perlu takut kapan datangnya. Keoptimalan tentunya dapat bermuara dari kesejahteraan dari setiap umat manusia yang diwujudkan dengan indikator kesejahteraan kita bersama. Tidak terciptanya disparitas yang jauh antara pendapatan setiap individu.

 

Jika kita menelurusi lebih dalam, masih banyak essensi dari alam yang dapat kita pelajari agar kita menjadi bijaksana untuk bertindak. Alam memberi kesejahteraan jika kia efisien mengelola dan akan efektive hasil yang kita dapat sesuai dengan target yang kita inginkan, akhirnya Dr. Said Sa’ad Marthon (2007 : Hal : 45) menerangkan bahwa ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan krisis bahan pangan (kelaparan) dalam kehidupan manusia yaitu :

  1. Perbedaan distribusi sumber ekonomi, laju pertumbuhan penduduk dan adanya perbedaan hasil bumji serta kekuatan dan kelebihan yang dimiliki masing-masing wilayah
  2. Kurangnya pemberdayaan (eksploitasi) manusia terhadap sumber-sumber ekonomi terkadang disebabkan adanya faktor sosial, politik dan budaya
  3. Kecendrungan manusia untuk hidup secara materialistis dan budaya konsumerisme yang hanya berlandaskan atas income yang ada tanpa memndang unsur-unsur pemborosan (israf)
  4. Krisis moral yang telah meracuni jiwa warga dunia. Adanya kecendrungan pihak penguasa ekonomi untuk mengekploitasi negara-negara miskin. Selain itu, adanya keengganan negara-negara yang mengalami surplus pangan untuk berusaha membantu pemenuhan kebutuhan pangan bagi negara yang mengalami kekurangan. Hal tersebut bisa disebabkan karena faktor ekonomi atau politik kekuasaan.

 

Akhirnya, perlu kita sadari ijelaskan dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945, negara Indonesia adalah negara hukum, kita harus selalu memberikan saran konstruktif untuk menyuarakan aspirasi berkaitan dengan aspek termasuk potensi yang belum tergali secara efisien di alam ini. Pemerintah dibutuhkan juga kearifan dalam menentukan kebijakan agar alam kita tercinta ini, dapat diolah secara baik untuk kesejahteraan bersama dan meningkatkan suatu program pemberdayaan masyarakat agar tercipta komoditas yang inovatif dari bahan jadi secara terus menerus untuk kedepannya menjadi ekspor menepis anggapan bahwa selalu negara berkembang mengekspor bahan mentah. Kita bisa, Semua tergantung kepada niat yang baik dan rencana yang matang. Belajar dari alam untuk kesuksesan bersama.