Baba Tandil dari Payabakung (Bagian 1)

dibaca 79 pembaca

Baba Tandil dari Payabakung (Bagian 1)

Diceritakan kembali oleh:

Nasib TS

 

Zaman penjajahan melahirkan banyak kisah di berbagai daerah. Tidak hanya kisah tentang sosok pahlawan yang menjadi ikon perlawanan terhadap penjajah sebagaimana telah dirtulis dalam catatan-catatan sejarah. Di zaman kolonial pula lahir banyak cerita rakyat yang mengisahkan legenda individual dengan berbagai pesan moral yang dapat dijadikan keteladanan.  Salah satunya, kisah tandil baik hati dari Tanah Deli. Tepatnya dari kawasan eks perkebunan tembakau Desa Payabakung, Kecamatan Hamparan Perak, Sumatera Utara. Sang tandil (mandor besar zaman Belanda) itu, Lim Chai Koa yang jago kungfu. Meskipun dia seorang pendekar yang jagoan, namun tidaklah menyombongkan diri dengan keahliannya itu. Cinta damai dan disukai masyarakat sekitarnya.

Harap maklum, pada zaman itu, oleh penjajah tandil dimanfaatkan guna menindas dan menakuti para kuli untuk memeras tenaganya. Tidak demikian halnya dengan Tuan Tandil Lim Chai Koa yang berperilaku arif bijaksana dan memperlakukan para kuli dengan baik. Tandil dari Paya Bakung ini  menaklukkan bawahan yang dipimpinnya bukan dengan kekerasan fisik dan mental, melainkan dengan kelembutan hati dan budi pekerti.  Keahlian beladiri yang ia miliki hanya dimanfaatkan untuk menaklukan hewan buas dan menaklukan kejahatan. Sang Tandil disegani bukan karena keahlian ilmu bela dirinya, melainkan karena kebaikan budinya pada sesama.  

Kisah ini berkembang dari mulut ke mulut di sekitar Payabakung seperti dituturkan A Lai, generasi keempat Lim Chai Khoa penghuni rumah tandil warisan zaman Belanda di Desa Payabakung, Deliserdang, Sumatera Utara. Nah, dari bangunan bersejarah itulah cerita ini bermula…

***

Pada zaman dulu, wilayah Kepulauan Indonesia termasuk Pulau Sumatera merupakan kawasan yang kaya dengan komoditas pertanian dan perkebunan, khususnya rempah-rempah. Kesuburan tanah Sumatera menjadi daya tarik bangsa-bangsa lain di dunia, khususnya bangsa Eropa yang berminat menguasai negeri kita. Salah satu bangsa yang mengincar negeri kita, termasuk Pulau Sumatera, adalah bangsa Belanda. Mereka menguasai tanah air kita yang subur makmur guna mengekploitasi kekayaan alamnya. Belanda dengan berbagai cara melalui perusahan-perusahan yang mereka bentuk berhasil menguasai lahan-lahan subur di Sumatera untuk ditanami berbagai komoditas tanaman industri seperti tembakau, coklat dan karet.

Dalam rangka memenuhi kepentingan pembukaan perkebunan itulah, perusahaan-perusahaan Belanda merekrut tenaga kerja secara besar-besaran.  Mengingat begitu luasnya wilayah perkebunan yang dibuka, memanfaatkan tenaga kerja penduduk setempat tidaklah cukup. Di kawasan Sumatera Bagian Utara, Belanda sebenarnya sempat merekrut tenaga kuli setempat. Mereka berasal dari masyarakat  Melayu, Karo, Batak dan Padang. Menurut catatan sejarah, orang-orang setempat kurang disukai penjajah karena cenderung tidak suka diatur oleh penjajah. Mereka lebih suka mengolah pertanian secara mandiri dan sebagai pekerja bebas.

Mengingat kebutuhan tenaga kerja yang cukup besar, Belanda kemudian merekrut tenaga kerja dari luar Sumatera, di antaranya dari Pulau Jawa, Kalimantan, India dan Cina. Dalam melakukan perekrutan tenaga kerja kuli perkebunan ini, perusahan Belanda ini melakukannya dengan berbagai cara, mulai dengan cara bujuk rayu dengan iming-iming gaji dan fasilitas yang menggiurkan hingga melakukannya dengan cara kontrak paksa.

Salah seorang kuli kontrak  yang berhasil direkrut Belanda untuk bekerja di Sumatera adalah Lim Chai Khoa. Seorang pemuda yang berasal dari sebuah desa di Daratan Tiongkok. Pada sebuah siang, Lim Chai Khoa didatangi seorang agen tenaga kuli kontrak. Lim Chai Koa yang saat itu berusia duapuluhtahunan dan masih lajang memang sedang galau karena membutuhkan pekerjaan. Kondisi kehidupan masyarakat di daerah Lim Chai Khoa bermukim memang cukup sulit. Lapangan pekerjaan minim. Banyak penduduk desa yang miskin, termasuk keluarga Lim Chai Khoa yang hidup dari hasil pertanian yang tidak seberapa.

Sebagai seorang pemuda yang tampan, saat itu Lim Chai Khoa sudah memiliki kekasih yang amat dicintainya. Namanya, Hio A Toa. Seorang gadis cantik berkepang dua dari keluarga sederhana. Hio A Toa merupakan gadis pilihan orangtua Lim Chai Khoa. Jadi, mereka dijodohkan orangtua. Meski hubungan mereka hasil perjodohan, namun keduanya saling suka. Lim Chai Khoa sangat mencintai gadis pujaannya itu dan berniat menikahinya. Berhubung belum mempunyai pekerjaan tetap, Lim Chai Khoa berniat menikahi Hio setelah kelak mendapatkan pekarjaan. Niat itu pun sudah pernah diutarakan langsung Lim Chai Khoa kepada sang kekasih, pada sebuah malam di bangku taman desa ketika langit sedang purnama.

“Hio kekasihku, meski hubungan kita hasil perjodohan, terlepas dari semuanya itu, aku sangatlah mencintaimu. Aku ingin menikah denganmu. Meski demikian tidak bisa buru-buru. Aku harus cari kerja dulu barulah kita menikah. Keluarga kita nanti tidak boleh dililit kemiskinan,” kata Lim kepada Hio.

“Baiklah Lim, aku percaya padamu. Aku sabar menunggu, sampai tercapai cita-citamu dan kita menikah. Apakah rencanamu untuk mendapatkan pekerjaan itu?” kata Hio pada sang kekasih, Lim.

Lim terdiam, berfikir. Hio terdiam, menunggu jawaban. Suasana menjadi hening. Cuma terdengar desir angin memainkan pucuk bambu. Di hadapan kekasihnya itu, Lim sebenarnya masih menimbang-nimbang soal tawaran seorang agen kuli kontrak yang mendatanginya tadi siang. Cong, nama ahen kuli itu, mengajaknya merantau ke Pulau Sumatera untuk bekerja pada perusahaan perkebunan tembakau milik Belanda. Dalam pikirannya berkecamuk, antara menerima atau menolak tawaran itu.

Pasalnya, Lim masih belum siap meninggalkan kedua orangtua dan keluarganya jauh-jauh. Daratan Tiongkok-Pulau Sumatera merupakan rutr perjalan yang amat panjang. Butuh waktu berminggu-minggu naik kapal laut. Selain itu, Lim juga belum punya pengalaman bekerja di sebuah perusahaan besar perkebunan. Selama ini ia memiliki keterampilan bertani yang sangat terbatas karena sering membantu ayahnya ke ladang sebagai petani sayur dengan lahan yang tak seberapa.

Lim merasa dirinya tidak memiliki bekal keterampilan bekerja yang memadai. Hal itu membuat ia gamang menerima tawaran sebagai kuli kontrak ke Pulau Sumatera. Satu-satunya kelebihan Lim adalah keterampilan seni bela diri, kungfu. Dia belajar kungfu pada paman Chan yangmerupakan seorang pendekar dengan ilmu kungfu yang tinggi.

Selain itu, Lim sebelumnya mendengar kabar Pulau Sumatera merupakan medan yang kejam di antara daerah jajahan kawasan Asia lainnya. Pada waktu itu, kabar peluang pekerjaan di daerah jajahan bangsa-bangsa Eropa memang menjadi pembicaraan masyarakat di kampung Lim. Di kalangan calon angkatan kerja migran dari Cina, Pulau Sumatera merupakan kawasan yang sedapat mungkin harus dihindari. Alasannya, kawasan ini dikenal sebagai daerah yang tidak kondusif untuk bekerja pada era penjajahan karena selain hutannya sangat ganas dengan pepohonan yang lebat serta hewan buas, juga karena adanya perlawanan-perlawanan para pejuang terhadap Belanda.

Lim Chai Khoa berada dalam situasi yang dilematis. Lim sangat mempertimbangkan kecakapan pengalaman kerja yang belum dia miliki di medan ganas yang akan dia datangi, di lain sisi ia sangat membutuhkan pekerjaan itu. Setelah ditimbang-timbang dengan cermat, akhirnya Lim sampai pada satu keputusan yang bulat. Demi kekasihnya dan demi cita-citanya.

“Kesempatan tidak datang dua kali. Aku harus menerima tawaran menjadi kuli kontrak itu, apa pun risikonya. Aku harus keluar dari kemiskinan di kampungku. Takadku sudah bulat,  ingin ikut program kuli kontrak ke Pulau Sumatera,”kata Lim pada kekasihnyadengan hati yang  mantab.

 “Aku sabar menunggumu kembali untuk menjemputku, aku mendoakanmu,” kata Hio tertunduk haru.

Hati Hio campur aduk, antara cemas kehilangan Lim dan melihat tanda-tanda secercah harapan bagi kehidupan baru yang mereka cita-citakan.

Sekarang giliran Hio yang terdiam. Melamun. Merenung. Memimikirkan. Mencemaskan. Bertanya-tanya, apakah yang akan terjadi untuk ke depannya.

“Hio, kok diam?” tanya Lim.

“Aku mencemaskanmu, tak sanggup berpisah denganmu?”

“Percayalah aku tidak apa-apa dan akan kembali untukmu. Aku akan menjemputmu kalau kita berhasil nanti,”katanya.

***

Senja turun di dermaga ketika ribuan calon penumpang dengan perbekalan masing-masing, menaiki tangga kapal api. Mereka adalah para pamuda Cina yang direkrut Belanda untuk menjadi buruh atau tepatnya kuli migran yang akan ditempatkan di perkebunan daerah Sumatera. Di bawah langit jingga, camar bermain dengan deru ombak. Matahari meredup di balik awan, kemudian tenggelam di batas cakrawala.

Lim Chai Khoa melangkahkan kakinya dengan pasti menuju tangga kapal. Tapak kakinya mulai menapak anak tangga  satu per satu di antara tapak kaki penumpang kapal lainnya yang berbaris menuju lambung kapal. Mereka siap diberangkatkan. Di sore yang cerah itu, setelah awak kapal memastikan tidak ada penumpang yang tertinggal, kapal perlahan menjauhi dermaga melaju dengan kecepatan rata-rata.

Beberapa saat perjalanan, hari pun mulai gelap. Kapal semakin jauh meninggalkan dermaga, hanya lampu pemandu yang masih terlihat dari pelabuhan yang ditinggalkan. Lim Chai Khoa sempat mengamati langit Laut Cina Selatan dari buritan kapal. Gelap, tanpa bintang. Saat itu kira-kira sekitar lima jam perjalanan. Pikiran Lim Chai Khoa mulai mengawang, tentang kehidupan dan tantangan baru yang akan dihadapi di tanah rantau. Tentang sebuah harapan di mana kelak ia bisa kembali dengan membawa bekal hasil bekerja untuk menikah dengan Hio A Teong, gadis pujaannya.

Keluar dari semua lamunan itu, Lim Chai Khoa amat menikmati pelayaran pertamanya di atas kapal besar yang mengangkut ribuan pemuda Cina yang mengikat kontrak menjadi kuli Belanda, termasuk dirinya. Ya. Dia bisa sampai di atas kapal yang tengah berlayar mengarungi samudera menuju Pulau Sumatera, atas bujukan Cong sahabat salah seorang pamannya.

Perjalanan kapal yang memakan waktu berminggu-minggu bisa melupakan sejenak apa yang  disangsikan Lim Chai Koa di tanah rantau. Sepanjang pelayaran, Lim Chai Khoa berusaha menikmati pengalaman pertamanya berlayar itu. Di atas geladak kapal, Lim Chai Khoa, tidak henti-hentinya memandang laut lepas. Sejauh mata memandang hanya air menembus kaki langit. Tidak ada suara aktivitas daratan, kecuali desau angin dan buih ombak yang diterjang kapal.

Tidak terasa, kapal telah masuk alur Selat Malaka, namun belum sampai ke dermaga. Bahkan petugas di dermaga pelabuhan telah diberitahu kapal segera merapat. Beberapa awak kapal memberitahu penumpang, bahwa kapal sudah dekat ke dermaga pelabuhan. Tak lama jangkar diturunkan. Kapal pun sandar ke pelabuhan.

Satu per satu penumpang menuruni tangga. Mereka saling berdesakan seakan tak sabar ingin menjejakkan kaki di bumi pengharapan, Pulau Sumatera. Termasuk rasa penasaran Lim Chai Khoa tidak terbendung. Ingin cepat-cepat menginjakkan kaki ke tanah yang kata Paman Cong menyimpan peluang besar. Tempat yang pas untuk mengubah lamunan menjadi orang kaya menjadi nyata.

            Saat kedua kaki kokohnya sudah turun di anak tangga terakhir dan menjejakkan kaki ke tanah pesisir Sumatera, Lim Chai Koa segera mengedarkan pandang ke sekeliling. Dia hirup udara Sumatera untuk pertama kalinya.

            “Hmmm. Udara yang segar dari tanah yang subur,”gumamnya.

Mata Lim Chai Koa memandang sekeliling dengan rasa takjub menyaksikan pohon-pohon nyiur menjulang dengan sirip daunnya berwarna hijau mengkilap ditimpa terik matahari seakan menari-nari menyambut kedatangan para kuli. Panarama alam tropis yang subur mengundang decak kagum seluruh penumpang kapal yang berisi para pemuda dari pedalaman Cina yang datang dengan niat ingin mengubah nasib. Lim Chai Koa pun kian percaya bujukan Paman Acong yang menjanjikan Pulau Sumatera adalah tanah subur yang akan memberi harapan baru. ***

Mengawali hari di Tanah Deli, para calon kuli kontrak dikumpulkan di halaman sebuah bangunan mirip bangsal. Mereka dibariskan. Diperkirakan jumlahnya ribuan. Di tempat pengumpulan para calon kuli itu, Lim Chai Khoa baru mengetahui jika mereka bukan hanya berasal dari Cina. Para calon kuli direkrut Belanda dari berbagai bangsa. Mereka dibariskan menurut suku bangsa dan asal daerah atau wilayah perekrutan.Mereka direkrut dari berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia atau berbagai negara di Asia. Dari Pulau Jawa ada suku Jawa dan Banten. Dari Kalimantan, ada suku Banjar. Dari kawasan Asia ada Keling ( India ) dan Cina.

Konon sebelum melakukan perekrutan, Belanda memang terlebih dahulu mempelajari ilmu antropologi dan karakteristik masing-masing suku bangsa. Berdasarkan kajian itu pula Belanda membagi-bagi mereka menurut kelompok dan keahlian. Orang Jawa dan Cina dipercaya mengolah tanah, Orang Keling bertugas mengaspal jalan, Orang Banjar membuat bangsal. Setelah diidentifikasi menurut kelumpok suku bangsa dan penugasannya, para calon kuli kontrak ini kemudian disebar ke wilayah-wilayah perkebunan yang dibuka Belanda di kawasan Sumatera Timur.

Lim Chai Khoa  dari kelompok kuli Cina dan bersama-sama kelompok kuli dari suku Jawa, Banten, Sunda, Minang Keling dan Banjar mendapat penempatan tugas menggarap lahan di kawasan Payabakung yang sekarang ini masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara.  Sebuah catatan menyebut, sebelumnya Belanda ada merekrut orang-orang Karo dan orang-orang Melayu. Namun Belanda merasa, pribumi kurang suka bekerja di perkebunan-perkebunan ini, walaupun ditempatkan di  kantor, apalagi menjadi kuli/buruh. Mereka tidak mau masuk perangkap, dan lebih suka bekerja bebas.  Sudah menjadi adat dunia, orang yang tidak disukai apalagi orang yang tidak mau diperintah selalu dicerca penjajah Belanda.

Di lain sisi, di balik kebebasan-kebebasan yang diberikan, Belanda memiliki tujuan terselubung. Dengan membuka tempat-tempat hiburan di setiap perkebunan, tidak lain memiliki tujuan agar uang gaji yang diterima para kuli dihabiskan untuk kesenangan di pasar malam yang dikelola oleh pengusaha dari kalangan orang-orang Belanda sendiri. Dengan cara demikian, siklus perputaran uang bermuara kembali kepada pengusaha Belanda. Bila uang para kuli habis, ketergantungan kuli untuk bekerja lagi pada Belanda semakin kuat. Karena itulah para kuli tetap melarat sementara orang-orang Belanda banyak yang menjadi konglomerat.

Di tengah situasi itu Lim Chai Koa menikmati pekerjaannya sebagai kuli kontrak yang mengolah lahan di perkebunan Payabakung bersama-sama kuli dari suku-suku lainnya. Seperti dijanjikan Paman Cong yang merekrutnya saat tinggal di kampung halaman, para kuli kontrak ini memang mendapatkan jatah tempat tinggal. Mereka tinggal di sebuah bangunan besar mirip bangsal yang dihuni oleh puluhan hingga ratusan kuli. Fasilitas tempat tinggal para kuli ini berupa tempat tidur massal, dapur umum, kamar mandi umum dan penerangan lampu sentir atau lampu minyak.

Suka tidak suka, Lim Chai Koa dan ribuan kuli kontrak lainnya harus menerimanya. Uniknya dari bangunan pondok kuli kontrak perkebunan Belanda ini, pondok dibangun dengan ciri menurut suku dan asal daerah perekrutan. Belanda memang tidak membaurkan para suku asal kuli dalam sebuah hunian. Mereka dipisahkan menurut suku dan keahlian masing-masing.

Contohnya, pondok yang dihuni kuli kontrak dari daerah Jawa biasanya dibangun dengan ciri atap genteng. Jadi bila ditemukan sebuah pondok perkebunan beratap genteng dipastikan penghuninya merupakan kuli dari suku Jawa. Konon, kuli dari suku Jawa ini dipekerjakan Belanda untuk mengolah lahan dan mencari ulat dari daun tembakau. Karena itulah, tempat hunian para kuli dari suku Jawa di daerah perkebunan dinamakan Pondok Genteng.

Ada pula Pondok Terpal. Pondok terpal adalah pondok yang dibangun dengan atap terpal berwarna hitam, mirip tenda darurat. Ini biasanya dikhususkan bagi kuli yang tugasnya bekerja membangun jalan. Pada umumnya, pondok terpal dihuni oleh para kuli yang berasal dari India Tamil. Kuli dari India Tamil ini terkenal ahli dalam membuat jalan. Tampaknya Belanda telah melakukan riset sehingga perekrutan tenaga kerja dilakukan menurut keahlian suku-suku dan bangsa tertentu sesuai kebutuhan.

Bangunan bangsal, dipercayakan kepada kuli yang berasal dari suku Banjar. Bangunan bangsal biasanya merupakan bangunan yang sangat besar dengan konstruksi dari bambu atau kayu dengan atap nipah. Mungkin Belanda telah mempelajari bahwa suku-suku di Kalimantan memang ahli membuat rumah adat dengan konstruksi bangunan yang luas dan besar bisa dihuni ratusan keluarga di dalamnya.

Sementara Lim Chai Khoa dan kuli dari keturunan Cina lainnya menghuni pondok beratap seng. Karena itulah kawasan mereka bermukim disebut Pondok Seng, sebutan lainnya Kongsi. Kuli dari keturunan Cina ini dipercayakan untuk mengolah tanah, khususnya membuat bedengan. Selain membuat bedengan untuk tanaman tembakau, kuli kontrak keturunan Cina ini dipercayakan untuk bidang pertukangan. Mereka dipercaya untuk membuat kusen pintu dan jendela atau membuat mobiler. Lim Chai Khoa kebetulan di awal-awal penugasan kerja bergabung dengan kelompok pengolah lahan. (*)