Baba Tandil dari Payabakung (Bagian 2)

dibaca 69 pembaca

Baba Tandil dari Payabakung (Bagian 2)

Diceritakan kembali oleh:

Nasib TS

***

Setiap akhir pekan awal bulan, kawasan perkebunan Payabakung tempat Lim Chai Khoa bekerja, merupakan waktu yang ditunggu-tunggu. Saat itulah para kuli menikmati kesenangan dengan uang hasil gajian mereka di sebuah pasar malam yang digelar di lapangan perkebunan.

Pasar malam menggelar berbagai permainan rekreasi maupun ketangkasan menawarkan sujumlah hadiah. Ada pula pertunjukan hiburan rakyat dan perdagangan aneka macam kuliner dan produksi industri serta kerajinan rakyat. Segala kebutuhan kesenangan seperti pakaian yang bagus bagus, makanan yang enak-enak maupun makanan rakyat dijual di pasar malam. Pasar malam biasanya diadakan oleh pengusaha orang Belanda.

Di balik kesenangan para kuli menikmati hiburan pasar malam, ada keresahan para pengunjung dan pedagang pasar malam atas kehadiran seorang tandil (mandor penguasa perkebunan Belanda) yang bertindak arogan serta sewenang-wenang kepada rakyat dan pedagang pasar malam. Di pasar malam dia minum minuman keras dan mabuk-mabukan, suka memeras pedagang kecil dan menindas rakyat kecil dengan bertindak sewenang-wenang. Sang tandil bersama pengikutnya selalu berbuat onar dan meresahkan. Banyak para kuli dan rakyat takut dengan tindakannya dan tidak melakukan perlawanan. Maklum, tandil pada masa itu merupakan jabatan yang disegani karena merupakan penguasa kecil di wilayah perkebunan.

Keresahaan akibat ulah seorang centeng dan pengikutnya sebenarnya sudah lama terdengar Lim Chai Khoa yang saat itu masih menjadi kuli. Hati kecilnya sebenarnya sangat geram, namun selalu ia pendam. Malam itu, Lim Chai Khoa ,bersama beberapa temannya sesama kuli yang masih lajang mencoba mencari hiburan di pasar malam. Dia berkeliling pasar malam dan sangat menikmati suasananya, hingga kesenangannya itu terusik setelah mendengar sebuah keributan di salah satu sudut area pasar malam.

Lim Chai Khoa melihat seorang centeng kejam itu menganiaya seorang ibu tua penjual kacang rebus. Pasalnya, si ibu tua tidak memberinya upeti karena dagangannya belum banyak yang laku. Sang tandil kejam itu menghardik dan menganiaya penjual kacang rebus dengan kasar.

Para pengunjung lainnya hanya terdiam menyaksikan pemandangan yang tidak pantas itu. Lim Chai Khoa berada tak jauh dari kejadian keributan itu. Dia melihat sang ibu menangis dan berlutut di kaki sangcenteng sembari minta ampun minta dikasihani. Namun sang centeng dengan pongah tidak ambil peduli.

“Ampun tuanku, ampunkan hamba,” kata si bu sembari menyembah.

“Pergi kau dari sini!” kata sang tandil sambil menendang tampah dagangan hingga berserakan tak kenal belas kasihan.

Hati Lim Chai Khoa geram sekali. Saat kaki sang centeng kejam berusaha untuk menendang sang ibu kedua kali, saat itu kaki lincah Lim Chai Khoa lebih dahulu menghalangi, sehingga tubuh sang ibu terlindungi dari tendangan sepatu lars sang centeng  kejam.

Hal itu membuat centeng sangat marah. Matanya melotot ke arah Lim Chai Khoa. Dia tidak menyangka masih ada yang berani melawannya di saat yang lain selama ini tidak ada yang berani terhadap apa pun yang ia lakukan. Suasana tegang, orang-orang kagum terhadap keberanian Lim Chai Khoa akan tetapi mereka tidak berani mengekspresikannya karena takut terhadap sang tandil yang sedang merasa malu karena mendapat perlawanan dari seorang kuli yang masih muda.

“Hei anak muda bedebah, beraninya kau melawan aku ya?” kata centeng sembari mencengkeram baju di bagian dada Lim Chai Khoa.

“Mohon maaf tuanku, ibu itu orangtua tidak berdaya tidak sepantasnya Anda menganiayanya,” kata Lim Chai Khoa.

“Itu bukan urusanmu, hei..anak kecil,” kata centeng dengan sombongnya sambil mendorong tubuh Lim Chai Khoa hingga terjerembab ke tanah.

Tidak cukup sampai di situ. Sang centeng marah sekali. Saat tubuh Lim Chai Khoa tersungkur ke tanah, dengan rasa marah yang luar biasa kaki sang centeng meluncur ke arah tubuh Lim Chai Khoa.

Tapi Lim tidak kalah gesit. Tubuhnya segera berkelit mengindar, lalu kedua kakinya menghentak tanah. Dia berjungkit, lalu melompat beberapa langkah ke belakang menghindari serangan kaki sang centeng. Marah si centeng semakin menjadi, dia pun melakukan serangan bertubi-tubi kepada Lim Chai Khoa.

Saat itulah Lim Chai Khoa menggunakan keahlian bela diri kungfu yang diajarkan paman Chan di kampungnya. Lim pasang kuda-kuda sembari bertahan menangkis dan menghindari serangan yang tak satu pun mengenai tubuhnya. Karena serangan tidak ada yang mengenai, membuat sang centeng semakin emosi dan geram. Sejauh itu, Lim tidak melakukan penyerangan balasan kecuali hanya bertahan, menangkis dan menghindari serangan.

Rupanya, sang centeng kewalahan juga dengan daya tahan Lim Chai Khoa. Sang centeng kemudian meminta bantuan pengikutnya untuk mengeroyok Lim Chai Khoa. Perkelahian tidak seimbang membuat Lim Chai Khoa merasa terdesak juga. Saatnya Lim Chai Khoa memberi pelajaran kepada centeng dan pengikutnya agar tidak lagi berlaku sewenang-wenang. Sekali gebrak membuat centeng dan pengikutnya terkejut terhadap keberanian Lim Chai Khoa. Pemuda itu lalu melanjarkan jurus-jurus andalan hingga membuat lawan kewalahan. Centeng dan pengikutnya roboh terkena jurus-jurus yang dilancarkan Lim Chai Khoa.

Setelah memastikan Centeng dan pengikutnya tidak lagi melawan, Lim Chai Khoa menghentikan serangan. Ia berdiri tegap sambil membetulkan kerah baju serta membersihkan tubuhnya yang kotor saat jatuh ke tanah. Centeng dan pengikutnya lari terbirit-birit. Lim Chai Khoa kembali teringat sang ibu tua penjual kacang rebus tidak berdaya. Lim Chai Khoa dan kawan-kawannya ikut membantu memungut dagangan si ibu yang berserakan akibat ulah sang centeng yang arogan.

***

Sejak peristiwa mengamankan kerusuhan di pasar malam itu, nama Lim Chai Khoa menjadi terkenal seantoro perkebunan. Keahliannya bermain kungfu dan keberhasilannya menaklukkan centeng arogan membuat Lim Chai Khoa disegani dan dihormati para kuli lainnya. Lim dianggap bukan kuli sembarangan. Ia seorang kuli yang jagoan dan baik hati.

Meski Lim seorang yang disegani, tak lantas membuat ia menyombongkan diri. Dia berperilaku santun terhadap kawan-kawannya sesama kuli maupun penduduk kampung Paya Bakung. Dia bebas bergail dengan siapa saja, tidak membeda-bedakan ras suku, status sosial maupun keyakinan mereka.

Sebagaimana disebutkan, Belanda telah merekrut kuli kontrak dari berbagai ras di Asia Tenggara. Bahkan Belanda mengelompok-ngelompokkan pemukiman mereka berdasarkan ras dan keahlian. Sekadar mengingatkan kembali, suku Jawa yang tinggal di Pondok Genteng dipekerjakan sebagai pengolah lahan dan mencari ulat daun, suku Tionghoa yang tinggal di Pondok Seng dipekerjakan di bidang pertukangan dan membuat bedengan lahan dan suku India Tamil tinggal di Pondok Terpal dipekerjakan membuat jalan. Namun, Lim Chai Khoa tidak pernah membeda-bedakan mereka. Karena itulah pergaulan Lim menjadi luas. Lim banyak teman dari berbagai suku dan keyakinan di seluruh wilayah perkebunan Paya Bakung.

Kabar tentang sosok kharismatik Lim Chai Koa yang disegani dan berhasil melawan kejahatan dengan ilmu bela diri yang dimiliknya, rupanya sampai juga ke pihak Belanda. Lim Chai Khoa kemudian diangkat oleh Belanda sebagai tandil. Tandil merupakan sebuah jabatan setingkat mandor besar di wilayah perkebunan dengan wilayah kekuasaan. Pada zaman itu, menjadi seorang Tandil merupakan jabatan bergengsi. Tandil adalah orang-orang pilihan. Tionghoa sedikit dari kebanyakan Tandil yang berasal dari kalangan pribumi, umumnya koeli kontrak asal Jawa dan sedikit dari kalangan Melayu.

Biasanya seorang Tandil adalah orang yang memiliki kecakapan khusus, tidak hanya kecakapan memimpin namun memiliki keterampilan bela diri yang memadai. Karena itulah Tandil adalah sosok yang disegani bahkan ditakuti. Tandil adalah raja kecil di wilayah administrasi perkebunan Belanda. Tugas seorang Tandil ibarat menejer lapangan atau menejer SDM yang mengatur dan mengordinir serta mengawasi para kuli perkebunan.

Tak heran bila Belanda memberikan fasilitas istimewa, termasuk rumah dinas yang besar dan megah pada zamannya. Sejumlah rumah dinas para Tandil yang dibangun sejak zaman Belanda itu masih mudah ditemukan di kawasan perkebunan di Sumatera Utara yang beberapa di antaranya masih ditempati para administreteur atau asisten kebun, namun banyak juga yang dibiarkan kosong tak berpenghuni alias ditelantarkan.

Sebagai seorang tandil, Lim Chai Khoa pun mendapatkan fasilitas rumah tandil di kawasan Payabakung, daerah kekuasaannya. Sejak diangkat menjadi tandil oleh Belanda, Lim Chai Khoa meninggalkan pondok seng, tempat tinggal para kuli. Ia resmi menempati rumah tandil. Meskipun dia menjadi tandil, Lim Chai Khoa tetap menjaga hubungan baik dengan para kuli.

 Rumah tandil yang ditempati Lim Chai Khoa itu merupakan bangunan rumah panggung yang kokoh bercat putih. Rumah warisan sejarah itu masih dapat disaksikan sampai sekarang dan menjadi saksi bisu sejarah kuli kebun Payabakung di masa lampau. Sayangnya, tidak ada keterangan tahun berapa rumah Tandil itu dibangun. Namun ada angka 1925 tertulis menggunakan cat warna hitam di salah satu sisi tiang penopang bangunan yang menghadap ke jalan. Menurut keterangan ahli waris, angka itu menunjukkan tahun direnovasi bangunan itu, bukan menunjukkan tahun dibangun. Artinya pada tahun 1925 rumah Tandil mengalami pemugaran.

Bangunan terdiri dua bagian penting. Bangunan induk berada di depan, merupakan rumah panggung yang ditopang 9 tiang penyangga beton.  Di bangunan utama ini sang mandor besar Lim Chai Koa atau akrab dipanggil Baba Tandil tinggal bersama keluarganya. Rata-rata rumah dinas pejabat perkebunan zaman dulu dibangun model panggung, bukan tanpa alasan. Konon hal itu dilakukan untuk menghindari serangan binatang buas dan banjir.

Sementara di bagian belakang bangunan induk, terdapat bangunan tidak berpanggung alias rumah lantai dasar. Bangunan induk berjarak sekitar 20 meteran dengan bangunan belakang dihubungkan dengan koridor beratap genteng. Bangunan belakang terdiri beberapa ruangan dan gudang. Bangunan belakang rumah induk itu merupakan rumah pembantu dan dapur serta gudang penyimpanan barang-barang.

***

Masih ingat dengan kekasih Lim Chai Khoa yang ditinggalkannya merantau ke Sumatera? Setelah diangkat menjadi seorang tandil, saatnya Baba Tandil Lim Chai Khoa menunaikan janjinya kepada sang gadis pujaan di kampung halaman bernama Hio A Teong. Lim pun pulang ke Tiongkok untuk menjemput kekasihnya itu dan menikahinya. Betapa bahagianya hati Hio A Teong. Dia pun rela meninggalkan kampung halaman dan menempuh hidup baru di Pulau Sumatera bersama Lim Chai Khoa.

Tak banyak pemuda Tionghoa seberuntung Lim Chai Khoa. Banyak pemuda Cina direkrut Belanda dalam keadaan lajang, namun mereka tidak bisa pulang menjemput gadis pujaannya di kampung halaman karena ketiadaan uang. Hidup menjadi kuli perkebunan Belanda dengan segala strategi bangsa penjajah itu untuk menguasai ekonomi, membuat kehidupan para kuli ini tetap melarat. Kalau tidak pandai-pandai mengelola keuangan, setelah gajian uang langsung habis di pasar malam atau fasilitas kesenangan lainnya. Belanda menciptakan situasi itu agar para kuli memiliki ketergantungan bekerja pada mereka. Bila gaji kuli habis di arena kesenangan mulai perjudian hingga prostitusi atau madat, para kuli akan kembali giat bekerja untuk mencari uang dan menghabiskannya kembali. Begitulah cara penjajah membentuk mental kuli yang akan menguntungkan penjajah.

Dengan kondisi itu, banyak impian pemuda Tionghoa  untuk kembali pulang ke kampung halamannya menjadi kandas.  Tidak hanya para kuli Tionghoa, demikian pula para kuli dari suku Jawa, Banjar, Keling dan lainnya. Mereka tidak bisa pulang ke kampung halaman hingga menetap di daerah jajahan Belanda dan menemukan jodohnya di kampung itu.

Baba Tandil Lim Chai Khoa sedikit dari pemuda Tionghoa yang menikah dengan gadis pujaan dari kampung halamannya. Kebanyakan para kuli kontrak Tionghoa ini menikah dengan gadis setempat hingga beranak pinak hingga terjadi pergolakan perjuangan merebut kemerdekaan dan serahterima kedaulatan, Baba Tandil dan para kuli kontrak Tionghoa tak pernah kembali lagi ke Tiongkok. Dia bersama sang istri mengarungi bahtera rumah tangga hingga dikaruniai anak beranak pinak di rumah Tandil itu.

***

.           Diceritakan, sebagai mandor besar koeli perkebunan, anak buah Baba Tandil terdiri dari beragam etnis—Jawa, India, Batak, Banten, Banjar, Tionghoa dan lainnya. Setiap Hari Raya Imlek, rumah tandil yang dihuni Baba Tandil penuh dengan para tamu yang beragam tadi. Sang mandor besar memperlakukan sama tidak membedakan satu di antara lainnya.

Baba Tandil pun menjadi mandor besar yang disegani. Begitu pula saat berlangsung Hari Raya Idul Fitri dan hari raya keagamaan lain, keluarga Baba Tandil  seakan ikut merayakannya. Mereka juga membuat acara makan-makan untuk tamu-tamu yang merayakan Lebaran. Pada saat Lebaran, Baba Tandil dan keluarga rajin  melakukan kunjungan balasan ke rumah-rumah warga.

Hebatnya, tradisi menjaga tali silaturahmi sesama warga itu masih hidup dan lestari di keluarga keturunan Baba Tandil Lim Chai Koa sampai sekarang. Setiap Lebaran, banyak warga yang mengantar kue dan makanan di rumah tandil. Penghuni rumah yang penganut Kong Hu Chu ini ikut merasakan nuansa Lebaran. Mereka juga bersilaturahmi kepada warga yang merayakan Lebaran.

Ketika Imlek tiba, giliran keluarga di rumah Tandil pula mengantar makanan ke rumah warga. Jenis makanan yang di antar pun terpilih karena keluarga turunan Baba Tandil menghormati perbedaan keyakinan dengan para tetangga. Bila makanan yang di antar untuk warga Muslim, biasanya dalam bentuk kue-kue kering yang umum dan halal atau buah-buahan dan sayuran. Toleransi di daerah ini berkembang secara wajar dan alamiah. Hubungan yang terjalin antar sesama merefleksikan kodrat manusia sebagai mahluk sosial.

Konon, pada masa peralihan kekuasaan aset perkebunan Belanda kepada Indonesia, banyak koeli Tionghoa yang yang tidak diteruskan sebagai karyawan perkebunan negara dengan berbagai alasan. Mereka tidak pula kembali ke kampung halaman dan memutuskan menetap di Tanah Deli. Di antara koeli kontrak Tionghoa yang memilih menetap di Tanah Deli Baba Tandil Lim Chai Koa sungguh beruntung. Saat serah terima aset pasca kemerdekaan, rumah tandil dihibahkan langsung oleh Belanda kepada Baba Tandil sebagai penghargaan atas jasa-jasanya di perkebunan.

Sejak saat itu Baba Tandil dan keturunannya  menempati kompleks pemukiman rumah tandil Payabakung. Impian Baba Tandil Lim Chai Khoa bersama kekasihnya Hio A Teong berakhir di sana hingga sepasang kekasih setia itu menutup mata di Payabakung, Tanah Deli, Pulau Sumatera, negeri jajahan Belanda.

Pesan moral dari cerita ini, meski memiliki ilmu keahlian yang tinggi tidak harus menyombongkan diri. Manfaatkan ilmu beladiri sesuai kebutuhannya, jangan disalahgunakan untuk menakuti dan menindas sesama manusia. Kepemimpinan dan kekuasaan yang dikendalikan dengan arogansi dan kekerasan hanya menghasilkan keresahan dan kerusuhan. Kepemimpinan yang dikendalikan dengan  kelembutan hati melahirkan kehidupan yang harmonis, tenteram dan damai. *)