SYECH KUBA TERBANG (BAGIAN 1)

dibaca 63 pembaca

SYECH KUBA TERBANG (BAGIAN 1)

 

Diceritakan kembali oleh:

Nasib TS

 

Sebuah legenda dari Tanah Deli yang mengisahkan kesetiaan seorang murid pada gurunya. Keinginan yang kuat mengalahkan keterbatasan. Modalnya harus yakin dan belajar bersungguh- sungguh serta patuh kepada guru. Bila diberi kepercayaan harus amanah.

***

 

Ahmad adalah seorang anak yatim. Ayahnya telah meninggal dunia sejak ia dalam kandungan. Semasa masih hidup, ayahnya seorang nelayan tradisional di pesisir timur Sumatera Utara. Sebagai anak yatim, ibunya merupakan orangtua tunggal yang menjadi tumpuan harapan dan gantungan hidup Ahmad. Guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sang ibu menggantikan profesi ayah Ahmad sebagai nelayan tradisional. Hanya saja, wanita itu tidak mencari ikan ke tengah laut. Sebagai nelayan perempuan, sangat berisiko mengarungi ombak di tengah laut yang ganas. Nyalinya juga tidak sekuat lelaki. Karena itulah, sang ibu cukup sebagai nelayan yang bekerja di perairan darat pesisir dengan mencari  lokan (sejenis kerang-kerangan) di muara sungai. Kadang-kadang mencari kepiting di bawah rimbun hutan bakau.

Bila ibunya mencari lokan dan kepiting, Ahmad kecil dititipkan pada tetangga. Kehidupan kampung pesisir sangat rukun dan damai. Tetangga sudah seperti saudara sendiri. Ketika sang ibu pergi mencari nafkah, para tetangga menjaga Ahmad dengan sukarela dan suka cita. Ketika usia Ahmad sudah beranjak delapan tahun, bocah itu lebih sering menemani ibunya mencari lokan dan kepiting.

Diriwayatkan, janda dengan anak lelaki tunggalnya itu bermukim di daerah sekitar Hamparan Perak, terletak sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Medan, ke arah utara. Pada zaman dahulu Hamparan Perak terkenal sebagai bandar pelabuhan yang sangat besar dan cukup sibuk karena menghadap langsung ke Selat Malaka. Perairan Hamparan Perak sekitarnya  terkenal sebagai jalur lintas perdagangan antar benua. Di antaranya jalur lintas perdagangan saudagar dari daratan Tiongkok, Eropa, termasuk Persia, Timur Tengah.

Selain berniaga, para pedagang Timur Tengah ini membawa ajaran agama Islam yang menyebar melalui pesisir Sumatra. Ajaran agama Islam kemudian berkembang lewat pendidikan yang berbasis pada surau atau masjid-masjid. Zaman dulu sekolah umum masih langka. Penduduk setempat yang beragama Islam biasanya menyekolahkan anak mereka ke pesantren, madrasah atau berguru pada ulama yang membuka pengajian di masjid  dan surau.

Ahmad dibesarkan pada periode zaman itu. Sang ibu membekali pendidikan Ahmad dengan cara menyerahkannya berguru pada kiyai di surau. Sayangnya, perkembangan pendidikan Ahmad tergolong lambat. Sejak dilahirkan, Ahmad memiliki kekurangan dibanding dengan anak-anak  yang lain. Kemampuan otaknya sangat lamban. Kawan-kawannya sering menjuluki Ahmad sebagai murid yang bebal atau bodoh. Karena ‘kebebalan’ nya itu, Ahmad sering menjadi bahan tertawaan dan diolok-olok oleh teman-temannya.

Meski demikian, Ahmad punya kelebihan tersendiri dibanding kawan-kawannya yang lain. Akhlaknya sungguh mulia dan penyabar. Meski sering dijadikan bahan tertawaan dan olok-olok oleh teman-temannya, ia  tidak lantas cepat marah. Ahmad tetap bersabar dan berlaku baik pada teman-temannya. Kepada guru Ahmad sangat patuh dan santun. Dia tekun menyimak setiap pelajaran yang diberikan. Memang kemampuan otaknya lamban, namun keinginannya untuk belajar amat kuat. Di surau (mushala) tempatnya belajar mengaji, Ahmad jarang absen. Ia selalu datang paling awal dari murid-murid yang lain.  Bahkan, ia selalu datang lebih dulu dari gurunya dan teman-temannya.  Setiap hari Ahmad datang duluan, menyusul gurunya, baru murid-murid yang lain. Ahmad datang ke surau paling awal, bukan berarti pulang cepat-cepat. Ahmad pulang paling akhir. Kadang-kadang pulangnya bersama-sama dengan gurunya. Soalnya, meski teman-temannya sudah pulang, kadang-kadang Ahmad masih harus tinggal di surau untuk belajar tambahan pada guru guna mengejar ketertinggalannya. Karena sikapnya yang sungguh-sungguh dalam belajar ini,, membuat Ahmad disayangi oleh gurunya.

Berkat bimbingan dan nasihat-nasihat yang diberikan ibunya di rumah, Ahmad tumbuh menjadi anak yang sangat menjaga sopan santun dan menjunjung budi pekerti. Akhlaknya sangat mulia dan penyabar. Bila disakiti kawan-kawannya, ia tetap bersabar. Tidak membalas menyakiti. Paling-paling ia menyingkir dari kawan-kawan yang menghardik atau memusuhinya.

Perilaku baik tak hanya terhadap guru dan kawan-kawannya. Di rumah, Ahmad tergolong anak yang patuh kepada ibunya. Dia juga sangat hormat kepada kerabat yang jauh lebih tua. Ahmad rajin membantu ibunya mencari kayu bakar, membantu mencari lokan, bahkan walaupun ia anak lelaki, tak segan membantu memasak di dapur demi meringankan beban pekerjaan ibunya.

Ahmad anak yang bodoh dan tertinggal di banding murid-murid lain,  di sisi lain Ahmad anak yang berakhlak mulia, menjunjung budi pekerti dan berkemauan kuat untuk terus belajar. Dalam kondisi seperti itulah,  Ahmad tumbuh dalam asuhan ibunya, janda nelayan yang sehari-harinya ia panggil Emak.

Zaman dulu, orang-orang di kampung bila ingin menyekolahkan anak mereka ke kota, harus diasramakan atau dititipkan pada sanak saudara. Biayanya tidak sedikit. Makanya, sangat jarang rakyat biasa bisa menikmati pendidikan di sekolah umum. Apalagi bagi seorang anak yatim seperti Ahmad. Meski demikian, walaupun mereka hidup susah, ibu si Ahmad memiliki cita-cita yang besar. Ia ingin membekali pengetahuan anak semata wayangnya hingga menjadi pintar. Kalau sudah pintar, Ahmad diinginkan ibunya menjadi seorang guru.

 Tidak ada alternatif lain, agar Ahmad bisa berpendidikan dan menguasai pengetahuan, Ahmad mesti belajar pada guru mengaji di surau. “Ahmad,  coba angkat tangan kananmu ke atas kepala, lalu gapai telinga kirimu. Bisakah?” kata Emak pada sebuah pagi sehabis menyiapkan sarapan sebelum berangkat mencari kepiting dan lokan.

Ahmad sama sekali tidak mengerti maksud Emak, mengapa ia memerintahkan seperti itu. Tapi dia tidak berniat bertanya, apalagi membantah perintah ibunya. Ahmad seorang anak yang patuh dan penurut pada perintah ibunya. Ahmad lakukan saja perintah ibu, menggapai telinga kiri dengan tangan kanan melewati atas kepalanya. Telapak tangan Ahmad berhasil menyentuh daun telinganya.

“Ternyata sudah sampai Mad, tanganmu sudah bisa menggapai telinga. Kamu sudah bisa masuk sekolah mengaji di madrasah,” ujar Emak.

Orang-orang kampung pada masa itu untuk menentukan batas usia pertama masuk sekolah adalah, apabila tangan melewati kepala sudah bisa menggapai telinga. Anak-anak bisa melakukan hal itu kira-kira ketika mereka berusia 6-7 tahun. Kurang dari umur itu pada umumnya belum bisa melakukannya.

Mendengarkan kata-kata Emak, Ahmad sangat gembira.

“Kapan Ahmad bisa mulai belajar mengaji di madrasah, Mak?” tanya Ahmad tidak sabar.

“Hari ini Emak tidak mencari kepiting dan kita akan pergi ke madrasah untuk mendaftarkanmu belajar mengaji di sana,” kata Emak.

“Terimakasih, Emak”.

“Engkau harus pintar dan berilmu Ahmad, karena ilmu pengetahuan akan mengantar kita menemukan jalan pengabdian pada kehidupan, sebagai ladang amal” ujar Emak.

Itulah awal mula Ahmad mengenal pendidikan mengaji di madrasah yang menjadi tempat baginya menimba pengetahuan berbasis agama. Belajarnya, sore hari selepas shalat Ashar. Biasanya, guru mengaji di kampung mengajar di madrasah menyesuaikan diri dengan waktu mereka mencari nafkah sebagai nelayan atau petani. Menjadi guru mengaji bukan mata pencaharian bagi mereka. Para guru mengaji yang mengajar di madrasah tempat Ahmad belajar umumnya nelayan dan petani. Mereka mengajar sebagai ladang amal dan pengabdian di luar waktu mencari nafkah sehari-hari. Bayarannya pun sukarela. Kadang-kadang malah banyak orang kampung yang tidak mampu membayar iyuran mengaji anak-anak mereka. Ada juga yang membayar iyuran mengaji anak mereka dengan hasil bumi, seperti jagung, ubi, pisang dan lainnya.

Ahmad sangat menikmati ‘sekolah’ nya. Setiap hari ia pergi ke madrasah pada sore hari selepas Ashar, sepulang menemani ibunya mencari kepiting dan lokan di muara paluh. Ahmad boleh dibilang seorang murid yang rajin ke madrasah. Tingkat kehadirannya cukup tinggi. Boleh dibilang nyaris tidak pernah absen.

Apa boleh buat, Ahmad sejak awal memiliki kekurangan, daya tangkap nalarnya rendah. Di madrasah Ahmad selalu tertinggal pelajaran dari anak-anak yang lain. Ketika berusia 12 tahun, anak-anak seusianya sudah khatam Al Quran. Tapi Ahmad belum tamat-tamat. Sudah berganti-ganti guru di madrasah, Ahmad masih belum bisa tamat juga. Sampai kemudian, sang ibu merasa tidak perlu lagi memasukkan Ahmad ke madrasah karena khawatir hanya menjadi beban dan merepotkan gurunya.

Karena itulah untuk beberapa lama, Ahmad sempat belajar sendiri sama ibunya di rumah. Setiap hari sang ibu telaten mengajari Ahmad dan berdoa untuknya. Ibunya yang seorang janda tidak bosan-bosannya mengulang kaji untuk Ahmad. Namun mungkin memang sudah takdirnya Ahmad, meski sudah diajari berulang-ulang, penangkapan otak Ahmad tetap saja lamban.

Meski demikian sang ibu tidak putus asa. Wanita itu selalu mendoakan Ahmad agar menjadi seorang anak yang berpengetahuan. Bagi sang ibu, Ahmad adalah satu-satunya harta yang paling berharga dalam hidupnya. Ahmad adalah aset masa depan yang berharga bagi diri dan keluarga. Pengetahuan akan membuat Ahmad kuat dan memiliki bekal hidup mandiri kelak.

Ia berkeyakinan, bila Ahmad bersungguh-sungguh, pasti bisa. Pepatah mengatakan, ‘Belajar di masa tua ibarat mengukir di atas air. Belajar di masa muda, ibarat mengukir di atas batu’. Ahmad masih muda. Sang ibu  berkeyakinan, puteranya itu masih memiliki harapan. Ibarat batu, bila setiap hari ditetesi dengan   air lama-lama akan melunak juga.

 “Orang yang tidak memiliki kepandaian dan tak berilmu cenderung menjadi pecundang dan martabatnya direndahkan. Maka jadilah kau orang pintar dan berilmu Ahmad. Belajarlah bersungguh-sungguh supaya kau jadi pintar dan berilmu,” kata Emak, begitu Ahmad biasa menyebut ibunya.

“Baik Emak, Ahmad akan bersungguh-sungguh dalam belajar,” sahut Ahmad berjanji.

 “Hari sudah larut malam, sekarang istirahatlah Mad, jaga kesehatanmu. Besok kita ulangi lagi pelajaran hari ini,” kata ibu.

“Sebentar lagi Mak, Ahmad akan tidur. Belum mengantuk. Kalau Emak sudah mengantuk, tidur duluanlah Mak, nanti Ahmad menyusul,” kata Ahmad.

Percakapan itu menutup malam di rumah panggung sederhana berdinding tepas dan atap rumbia milik mereka. Tak lama cahaya lampu minyak dari celah kisi jendela meredup, lalu padam, Di dalam rumah itu Ahmad dan ibunya istirahat melepas lelah seharian. Pintu-pintu rumah tetangga telah lama tertutup. Selebihnya senyap mendekap malam.

***

Suatu hari, ibu Ahmad mendengar kabar, pondok pesantren yang berada di Labuhandeli, kampung sebelah, kedatangan guru baru. Namanya Tuan Guru Syech Aulia. Tuan Guru berasal dari Kampung Sigara-gara. Kampung ini terletak di daerah perbatasan wilayah Patumbak dan Delitua. Dari Sigara-gara Tuan Guru mandah ke Labuhandeli untuk mengajar mengaji di sebuah surau yang banyak murid-muridnya. Para murid yang belajar di surau itu kerap menginap hingga mereka membangun pondok-pondok tempat menginap di sekitar surau. Surau tempat santri belajar mengaji ini kemudian menjadi terkenal sebagai pondok pesantren. Tuan Guru mengajar di surau itu.

Konon, Tuan Guru seorang yang alim dan disegani di daerahnya.  Sang ibu pun berniat memasukkan Ahmad belajar di surau kampung sebelah, tempat guru terkenal itu mengajar.

Emak, berkeyakinan putranya akan menjadi pintar di tangan Tuan Guru. Kabar kehadiran Tuan Guru di surau daerah Labuhandeli itu membuat Emak seperti menemukan harapan baru. Kharisma Tuan Guru diharapkan  bisa menempa Ahmad menjadi anak yang pintar dan berilmu.

Emak optimis, Ahmad bisa menamatkan pelajaran seperti teman-temannya yang lebih dulu lulus. Emak berharap, Tuan Guru bisa membimbing Ahmad hingga pandai dan kelak bisa menjadi seorang guru yang dapat mengamalkan ilmu yang diperolehnya.

“Ahmad, engkau sudah besar. Sudah waktunya meningkatkan pengetahuan  sebagai bekal masa depanmu. Emak ingin engkau menambah ilmu dengan berguru pada Tuan Guru di pesantren kampung sebelah,” kata Emak kepada Ahmad selepas menyantap hidangan makan malam mereka.

Mendengar tawaran Emak, hati Ahmad amat gembira. Tentu saja tawaran Emak tidak ingin disia-siakannya. Ahmad sangat menyayangi Emak. Ia sangat ingin memenuhi harapan emak. Ingin membahagiakan emak. Emak menginginkannya menjadi seorang guru agar bisa mendidik anak-anak kampung menjadi berpengetahuan. Dan, Ahmad akan belajar tekun agar cepat pintar  dan menjadi seorang guru.

Di tengah semangat yang menyala untuk menuntut ilmu pada Tuan Guru di kampung sebelah, bayangan emak yang sudah mulai beranjak tua dan tinggal sendirian di gubuk reot mereka, berkelindan di pikiran Ahmad. Ia tidak tega meninggalkan emak sendirian di kampung.

“Bagaimana ya Mak? Kalau Ahmad pergi menuntut ilmu di Labuhandeli, nanti emak tinggal sendirian di rumah. Tidak ada yang menemani dan tidak ada yang membantu emak,”  Ahmad mengutarakan kegundahan hatinya.

“Soal emak, tidak usah kau risaukan, Mad. Emak masih kuat melakukannya. Bagi emak, kelanjutan hidupmu lebih penting. Masa depanmu masih panjang. Masa depan harus dipersiapkan dari sekarang, karena itu belajarlah engkau kepada Tuan Guru di Labuhandeli. Kejar ilmu dengan sungguh-sungguh, semoga engkau berhasil nanti, nak?”.

“Kalau begitu kata Emak, ya sudah saya mau belajar dengan Tuan Guru di Labuhandeli. Terimakasih, emak”

“Kalau begitu, bersiap-siaplah untuk berkemas. Besok pagi emak antarkan engkau ke Labuhandeli  menemui Tuan Guru,” ujar emak.

***

Keesokan harinya, jadi juga emak mengantar Ahmad pada Tuan Guru.  Setelah bertemu Tuan Guru, emak menceritakan kondisi Ahmad.

“Kedatangan saya kemari ingin menitipkan anak saya Ahmad untuk belajar pada Tuan Guru, semoga kiranya Tuan Guru berkenan menerima anak saya dengan segala kekurangannya,” katanya.

“Baiklah, dengan senang hati dan terbuka saya menerima anak ibu sebagai murid saya. Tidak saya bedakan dengan murid-murid lainnya. Semoga kelak Ahmad bisa menjadi anak yang pandai lagi berguna bagi bangsa dan berbakti pada orangtua dan agamanya,” kata Tuan Guru.

Tuan Guru pun memahami kondisi Ahmad dan ia berjanji akan mengasuh Ahmad sebagai muridnya. Sebelum meninggalkan surau, emak sempat menitipkan pesan pada Ahmad.

"Ahmad, kau dengar nasihat Emak. Belajarlah kamu baik-baik dengan Tuan Guru.  Jadilah anak pintar dan soleh, jangan tinggalkan ibadah.  Bila ingin bahagia jangan durhaka sama  orang tua, jika ingin pintar jangan durhaka pada  guru. Guru adalah orangtuamu di tempatmu menuntut ilmu. Berat nian hati Emak melepaskanmu Ahmad, tapi kau harus belajar biar bisa pintar dan hidupmu berguna bagi orang lain”.

Ahmad menunduk dan memeluk perut ibunya. Seakan terasa berat juga berpisah dari orang yang melahirkannya dan hari-hari menemani hidupnya selama ini. “Iya Mak. Nasihat emak akan Ahmad ingat selalu. Ahmad doakan emak, baik-baik di rumah kita. Jaga kesehatan Mak, jangan terlalu lelah bekerja karena Ahmad tidak bisa membantu emak lagi selama mondok di pesantren ini,” ujar Ahmad.

Setelah emak pamitan pulang, Tuan Guru kemudian membimbing Ahmad menuju kamar tempat ia mondok nanti. Ahmad pun berkemas menyusun pakaian dan barang-barang yang dibawanya dari rumah. Di dalam kamar pondok itu, Ahmad menghuni kamar bersama tiga santri lainnya. Tuan Guru memperkenalkan mereka satu per satu.

“Perkenalkan, ini kawan-kawanmu, Sulaiman, Ridho dan Adam,” kata Tuan Guru.

Mereka bersalaman dan saling mengakrabkan diri sebelum kemudian Tuan Guru beranjak pergi meninggalkan ruangan itu. (*)