Rabu, 25-11-2009, 7:41:47Wib
TOKOH HUKUM ANAK MEDAN
Pada mulanya, Todung ingin menjadi psikolog. Datang ke Jakarta, 1969, iseng-iseng ia ikut tes Fakultas Hukum UI, dan diterima. Menjelang kuliah selesai, ia \\\'\\\'magang\\\'\\\' -- tanpa gaji -- di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. Akhirnya ia malah diangkat menjadi direktur lembaga itu, dan sejak 1984 menjabat sebagai Ketua Yayasan yang memayungi LBH di seluruh Indonesia. Empat tahun sebelumnya, ia meraih master bidang hukum ekonomi pada Universitas California, AS.
Sikap Mulya sering dianggap keras. Ia menganggap, adalah merupakan tantangan bagi LBH untuk membela rakyat yang terampas haknya. Terhadap kasus korupsi, ia menentang usul yang menyarankan pemutihan hasil korupsi.Sikap tegas LBH dalam masalah hak asasi manusia mungkin dengan mudah bisa kena cap anasional. Peristiwa dalam Seminar Hak Asasi di Singapura, Februari 1981, boleh jadi membuktikan sebaliknya. Seorang wakil Fiji, yang menurut Mulya Lubis sebenarnya orang Irian Jaya, malah lulusan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, mengumbar bahwa Irian Jaya berbeda secara etnis dan historis dengan bagian Indonesia lainnya. Di sinilah Mulya -- bersama Adnan Buyung Nasution, Yap Thiam Hien, dan Daniel Dhakidae -- naik pitam dan memprotes keras.
Todung pernah aktif menulis di majalah Horison, Sastra, dan Basis. Kumpulan sajaknya bersama Rayani Sriwidodo, Pada Sebuah Lorong, terbit pada 1968. Menikah pada 1983, dua tahun kemudian ia mendirikan kantor konsultan hukum Mulya Lubis & Associates, Attorneys and Counsellors at Law. Damiyati Soendoro, dokter gigi, tampaknya memahami profesi Todung. \'Saya siap menghadapi sesuatu atas diri suami saya, ujarnya.
Blogger |